SUARAPAPARISA.COM, Analisis politik menjelang peralihan masa kepemimpinan. Kolaborasi konspirasi politik kian nampak, pergeseran tampuk kepemimpinan dilakukan dengan berbagai cara alias memotong & menghalalkan berbagai cara yang (inkonstitusional).
Eskalasi Peta politik Nasional berubah begitu cepat, bersamaan tensi politik yang tinggi. Praduga TB; Indikasi chaos sebagai solusi dengan tujuan; utama bukan saja meloloskan batas usia dan presentasi ambang batas parlemen 20% -25% suara partai namun jika ditelaah lebih dalam lagi, ada makna dasar tersirat jelas yakni; untuk menghambat proses pelantikan presiden terpilih pada 20 Oktober mendatang. Pintu masuknya melalui pengesahan RUU Pilkada sebagai banding atas putusan Mahkamah Konstitusi terkait Pilkada. Jika faktor x dugaan benar, maka yang dituju ialah stabilitas keamanan dan politik nasional dengan gonjang-ganjing pada situasi darurat dimasa transisi kekuasaan. Jika terjadi gonjangan; maka pemerintahan saat ini, dapat dilanjutkan dan pelantikan Presiden terpilih bisa tertunda tahun depan, maka sang Raja Jawa masih bisa mengendalikan pilkada 27 November untuk memuluskan kepentingan politik dinasti ke depan.
Jika tak dibaca secara cermat dan dijaga baik, Koalisi Indonesia Maju (KIM), dapat menjadi malapetaka untuk pemerintahan presiden terpilih selanjutnya. Sebab terasa kuat indikasi perpecahan skala besar diawali stabilitas politik dan keamanan dalam negeri. Indikasi pengambilalihan beberapa parpol menjadi pintu masuk membentuk kekuatan untuk melumpuhkan kekuatan politik presiden terpilih. Bisa dikatakan menjelang pelantikan presiden terpilih, negara sedang tidak baik baik saja.
Mari kita rapatkan barisan, jaga dan kawal Presiden Terpilih bapak H. Jenderal (Purn) Prabowo Subianto. Semoga ke depan Partai Gerindra dan Presiden terpilih tidak mudah terpancing dengan rayuan politik jebakan dan dapat jeli melihat pergerakan sikon politik menyongsong pelantikan pada 20 Oktober mendatang.
Salam Merah Putih
Anak pedalaman Papua
Andy S Komber










Komentar