Suarapaparisa.com, Pertarungan pengetahuan yang semu antara MKC dan MYW memberikan dampak buruk bagi toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pemahaman nilai dan makna kehidupan beragama yang rendah menimbulkan kegaduhan publik. Saling fitnah dan hina antar pribadi dengan berbagai asumsi hikayat dan sejarah kitab suci dengan kaca mata intoleran menimbulkan perpecahan dalam konteks toleransi beragama di Indonesia.
Sangat tak etis dan memalukan ketika melihat pada murtadin dan mualaf saling menghina keyakinan asalnya. Seolah merekalah juru kunci utusan surga dan neraka. Para tokoh agama dibuat tak berdaya dan bingung melihat gelagat dan keberanian sang debater agama untuk mencari dan menunjukan pendapat tentang kebenaran Sang Pencipta.
melihat peristiwa tersebut, ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak :
*Siapa mereka ?
*Apakah yang dilakukan telah menunjukan cara beragama yang baik dan benar sesuai falsafah dasar Agama, norma adat istiadat dan etika silaturahim antar sesama anak bangsa?.
* Mengapa mereka saling menghina ?, bukankah Agama mengajarkan kita tentang kebaikan, rasa saling hormat-menghormati, dan menuntun kita untuk hidup baik ?
*Apakah dengan menghina keyakinan sesama, mereka telah sukses menyebarkan kebenaran agama yang dianut?
* Bukankan negara menjamin kebebasan dalam menentukan pilihan untuk beragama ?
*Apakah para mualaf dan murtadin telah paham benar dasar agama asal dan keyakinan baru mereka?.
*Apakah yang mereka lakukan telah mencerminkan nilai agama yang dianut dan apakah dengan cara tersebut mereka telah menyatakan diri sebagai pahlawan Agama yang patut di puja-puja oleh kamu nya ?
*Mengapa mereka terlihat begitu leluasa mengatasnamakan Agama untuk menghina dan memfitnah sesama ?
*Apakah cara mengajarkan nilai-nilai Agama yang baik dan benar dengan saling menghina seperti itu ?
*Pertanyaan hakiki dan mendasar : Mengapa manusia selalu merasa lebih pintar, hebat dan maha tahu diri dan Pribadi Tuhan Allah sedangkan sifat dasar manusia makhluk tak sempurna ?
Sungguh suatu refleksi kebangsaan yang mendalam. Sebab dengan menghina simbol hakiki suatu keyakinan, telah mencoreng martabat kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab semua Agama dan keyakinan adalah anugerah dari Tuhan Allah, sebagai perwujudan kasih dan Rakhmat Tuhan Allah bagi umat-Nya.
Melihat berbagai polemik terkait penodaan paham keyakinan antar umat beragama, maka mohon sekiranya dipertimbangkan beberapa masukan berikut :
*Kementerian Agama melalui Dirjend terkait, dapat bekerjasama dengan pihak KWI, PGI, MUI, WALUBI, PHDI dan MATAKIN untuk selektif membina para anggota yang baru bergabung. Memberikan pendidikan khusus Dasar-dasar keagamaan dan mengeluarkan larangan untuk berkomentar di publik mewakili agama barunya.
*Para pemuka agama hendaknya selektif dalam memberikan jabatan, gelar dan panggung bagi para anggota baru untuk mewakili agama yang nota bene baru dipijaki.
*Kementerian Agama bekerjasama dengan Kementerian Kominfo, bekerjasama dengan paguyuban umat beragama untuk aktif menyiarkan mimbar toleransi antar umat beragama baik melalui medsos maupun seminar kebangsaan dan berbagai kegiatan lainnya
*Perlunya Kementerian Pendidikan memasukan kurikulum khusus terkait toleransi antar umat beragama dan wawasan dasar kebangsaan bangsa Indonesia
*Para penegak hukum hendaknya menindak tegas para provokator yang menanamkan nilai kebencian antar umat beragama di Indonesia tanpa pandang bulu.
*PGI, KWI, MUI, WALUBI, PHDI, MATAKIN, menyusun suatu aturan baku bahwa yang menghina ajaran Agama sesama, akan dilaporkan langsung oleh wakil tokoh Agama dan tetap menjunjung tinggi nilai kebangsaan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia.
*Pihak Kominfo bekerjasama dengan tim Ciber Mabes Polri, menghapus semua postingan terkait SARA yang beredar di media sosial.
Agama adalah Anugerah dan berkat dari Tuhan Allah. Sebagai petunjuk dan jalan menuju kehidupan yang kekal. Agama mengajarkan kita tentang nilai kebaikan, kebenaran sejati, toleransi antar sesama, keindahan dalam sikap dan tingkah laku dan keselarasan antara alam ciptaan serta kehidupan makhluk hidup. Nilai Ajaran Agama adalah Kasih, Sukacita dan Damai Sejahtera dari Tuhan Allah kepada sesama umat manusia, dengan cara menaburkan rahmat dan kasih Tuhan Allah melalui perilaku kita pada sesama.
Murtadin dan Mualaf telah salah jalan. Cara mereka mengajarkan kebenaran Kitab Suci dengan saling menghakimi, menghina, memfitnah, membanding-bandingkan, mengadu-domba. Mulut mereka kotor untuk mencaci sesama dengan dalih kebenaran dan perintah agama dengan menggunakan nama Tuhan Allah. Mereka tak sadari semua agama melarang apa yang mereka lakukan. Sebab tak ada suatu agama pun yang mengajarkan keburukan dan kesesatan. Semua Agama dan keyakinan BAIK dan MULIA dihadapan Sang Pencipta. Para tokoh karbitan agama yang merusak nilai kebenaran dan kesucian agama adalah manusia yang tidak ingin adanya kedamaian dalam keberagaman. Sebab itu, marilah seluruh masyarakat indonesia dari Sabang sampai Merauke, demi keharmonisan dan toleransi antar umat beragama; kita tolak dengan tegas para murtadin dan mualaf perusak nilai keagamaan di Indonesia.
Tuhan Allah Sang Pencipta yang diperdebatkan manusia, ialah Sang Agung Yang Transendental namun Inanen, Sang Khalik Jagat yang Kudus milik semua umat, semua kaum dan semua Agama. Janganlah diperebutkan kebenaran sebab sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui yang baik dan buruk dari hasil CiptaanNya. Sebab itu marilah kita saling berdamai dan mengasihi dengan mewartakan kasih dan sukacita Tuhan kepada sesama.
*Cinta Kasih Menyatukan Segala Perbedaan dan MerahPutihkan Indonesia Raya. ASK*
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨
Carik ranting kering
ASK✍🏻
Anak Pedalaman Papua










Komentar