SP.COM, AMBON, MALUKU — Memasuki usia ke-62 tahun pada 20 Oktober 2026, Partai Golkar dihadapkan pada tantangan penting dalam menjaga kesinambungan organisasi, khususnya dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan dan membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda di tengah pesatnya perkembangan zaman.
Sekretaris Pimpinan Daerah Angkatan Muda Partai Golkar (PD AMPG) Provinsi Maluku, Mustafa Sangadji, menilai bahwa regenerasi politik tidak boleh hanya dimaknai sebagai pergantian kepengurusan atau munculnya wajah-wajah baru dalam struktur partai. Lebih dari itu, regenerasi harus menjadi proses pembentukan generasi yang memiliki kapasitas, integritas, kemampuan berpikir kritis, serta kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Menurutnya, perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), serta perubahan pola komunikasi masyarakat merupakan tantangan yang tidak bisa diabaikan oleh organisasi politik, termasuk Partai Golkar.
“Partai Golkar tidak boleh hanya besar karena sejarahnya. Golkar harus mampu menjawab tantangan masa depan. Generasi muda hari ini hidup dalam zaman yang berbeda, dengan cara berpikir, berkomunikasi, dan melihat politik yang juga berbeda. Karena itu, pendekatan kaderisasi harus berubah mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai perjuangan dan karya kekaryaan.”
Mustafa menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar partai politik saat ini adalah bagaimana membangun kembali ketertarikan generasi muda terhadap dunia politik yang selama ini kerap dipandang terlalu formal, elitis, dan jauh dari persoalan kehidupan sehari-hari.
Ia berpandangan bahwa generasi muda membutuhkan ruang untuk menyampaikan gagasan, mengembangkan kreativitas, serta mengambil peran dalam proses pengambilan keputusan, bukan sekadar dijadikan pelengkap dalam kegiatan organisasi.
“Anak muda jangan hanya dibutuhkan ketika ada agenda politik atau kegiatan seremonial. Mereka harus diberikan kesempatan untuk belajar, berproses, menyampaikan kritik, bahkan mengambil tanggung jawab dalam kepemimpinan. Regenerasi tidak akan berjalan apabila ruang untuk generasi muda masih terbatas.”
AMPG Harus Menjadi Ruang Pembentukan Kader yang Berkualitas
Lebih lanjut, Mustafa menilai bahwa AMPG memiliki tanggung jawab dalam mendorong lahirnya kader-kader muda yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dinamika sosial.
Menurutnya, pendidikan politik di era sekarang tidak cukup hanya dilakukan melalui pertemuan organisasi dan kegiatan formal. Diperlukan pendekatan baru melalui pemanfaatan teknologi digital, diskusi terbuka, pengembangan kapasitas kepemimpinan, serta keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Pandangan mengenai pentingnya pembaruan kaderisasi juga menjadi perhatian di tingkat nasional. Pada Agustus 2026, pengurus DPP Partai Golkar menyampaikan perlunya pendekatan kaderisasi yang lebih fleksibel, komunikatif, dan berbasis interaksi digital untuk menjangkau generasi milenial dan Generasi Z.
Regenerasi Golkar di Maluku Harus Menjawab Persoalan Daerah
Dalam konteks Maluku, Mustafa berpandangan bahwa proses regenerasi politik juga harus memperhatikan karakteristik daerah kepulauan serta tantangan yang dihadapi generasi muda.
Persoalan kesempatan kerja, pendidikan, pengembangan kewirausahaan, akses teknologi, dan keterbatasan ruang pengembangan potensi pemuda harus menjadi perhatian dalam pendidikan dan pembinaan kader.
Ia menilai bahwa kualitas seorang kader muda tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuannya berbicara tentang politik, tetapi juga oleh kemampuannya memahami persoalan masyarakat dan menawarkan gagasan yang dapat diwujudkan.
“Kita membutuhkan generasi muda yang bukan hanya pandai berbicara politik, tetapi juga mampu membaca persoalan daerah dan menghadirkan solusi. Anak muda Maluku memiliki potensi besar. Tantangannya adalah bagaimana organisasi politik memberikan ruang agar potensi itu dapat berkembang.”
Mustafa juga menekankan pentingnya hubungan antara kader senior dan generasi muda dalam menciptakan kesinambungan kepemimpinan.
Menurutnya, pengalaman para senior merupakan sumber pembelajaran, sementara kreativitas dan kemampuan adaptasi generasi muda menjadi unsur penting dalam menghadapi perubahan zaman.
Keduanya harus berjalan beriringan agar proses regenerasi tidak menimbulkan jarak antargenerasi di dalam organisasi.
HUT ke-62 Golkar Harus Menjadi Momentum Evaluasi dan Pembaruan
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Partai Golkar ke-62, Mustafa berharap momentum tersebut tidak hanya dimaknai sebagai perayaan perjalanan panjang organisasi, tetapi juga menjadi kesempatan melakukan evaluasi terhadap pola kaderisasi dan kesiapan partai menghadapi tantangan masa depan.
Ia menilai bahwa keberlanjutan sebuah organisasi politik membutuhkan keberanian untuk melakukan pembaruan, membangun budaya keterbukaan, serta memberikan kesempatan berdasarkan kemampuan dan kualitas kader.
“Usia 62 tahun adalah perjalanan panjang yang harus dihargai. Tetapi kita juga harus berani bertanya, apakah generasi penerus sudah benar-benar disiapkan? Apakah anak muda sudah memperoleh ruang yang cukup? Dan apakah pola kaderisasi kita sudah mampu mengikuti perubahan zaman? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus menjadi bahan evaluasi bersama.”
Di akhir pernyataannya, Mustafa menekankan bahwa regenerasi bukan sekadar kebutuhan organisasi saat ini, melainkan investasi jangka panjang dalam mempersiapkan kepemimpinan masa depan.
“Golkar harus tetap menghargai sejarah, tetapi tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita harus berani berubah, berani membuka ruang bagi anak muda, dan berani menyiapkan pemimpin masa depan. Sebab, regenerasi bukan tentang siapa yang menggantikan siapa, melainkan tentang siapa yang benar-benar dipersiapkan untuk melanjutkan tanggung jawab.”
Golkar Solid, Indonesia Maju, Maluku Bangkit !
Mustafa Sangadji
Sekretaris PD AMPG Provinsi Maluku. (*








Komentar