oleh

Alur Dangkal, KMP. Satya Kencana II Terkendala Masuk Koijabi

Suarapaparisa.com. Dobo, Kepulauan Aru,- KMP. Satya Kencana II dikabarkan belum bisa melayani rute pelayaran Dobo-Koijabi, Kecamatan Aru Tengah Timur (ATT), Kabupaten Kepulauan Aru karena terkendala alur masuk yang dangkal.

Kedalaman alur masuk di perkirakan hanya sekitar 2 Meter dari permukaan laut, sehingga tidak memungkinkan untuk Kapal masuk dan bersandar di Pelabuhan Ferry Koijabi.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Aru, Edwin Pattinasarani saat ditemui awak media ini di ruang kerja, Rabu (10/03/2021).

“Kendala di Koijabi karena alurnya dia tidak bisa bersandar di Pelabuhan. Jadi memang kondisinya surut, kedalamannya bisa sampai 2 Meter,” ungkapnya.

Dikatakan bahwa, kalaupun KMP. Satya Kencana II dipaksakan untuk tetap melayani rute pelayaran Dobo-Koijabi, maka sampai disana Kapal akan berlabu pada jarak sekitar 6 Mil dari Pelabuhan, karena alur masuknya tidak bisa untuk ukuran Kapal besar.

“Satya Kencana II ini kan dia punya bobot berat hampir enam kali (6X) Kapal Ferry Lobster. Lobster kan cuman 660 Ton, sedangkan Satya Kencana II ini kan 2.100 Ton,” jelas Edwin.

Bahkan dengan kedalaman alur masuk yang diperkirakan hanya sekitar 2 Meter dari permukaan laut itu, Kadishub Aru sendiri belum bisa menjamin untuk Kapal Ferry Lobster masuk dan bersandar di Pelabuhan Ferry Koijabi.

“Kita belum tahu, karena kalau draf kedalaman hanya 2 Meter, Lobster tidak bisa masuk. Lobster itu dia bisa masuk kecuali draf kedalaman air 3,5 Meter,” katanya.

Dijelaskan bahwa untuk kolom bandar di Dermaga Ferry Koijabi memang memiliki kedalaman diperkirakan sekitar 6-7 Meter, hanya saja alur masuk ke kolam bandar yang tidak memungkinkan.

Selain itu panjang kapal 69 Meter, sehingga kalaupun ada alur masuk untuk Kapal bersadar di Dermaga, tetapi otomatis manuvernya akan sangat kecil.

Kadishub mengaku telah bertemu dengan Camat ATT dan pihak Pemerintah Desa Koijabi untuk meminta mereka memasang PAL pada alur masuk, dan mereka menyampaikan bahwa ada alur masuknya, namun lagi-lagi terkendala dengan bobot kapal yang membutuhkan kedalaman sekurang-kurangnya 4 Meter.

Kendati demikian, Edwin mengaku tidak bisa ada perubahan titik singga ke pelabuhan lain, walaupun masih berada di wilayah Kecamatan Aru Tengah Timur, karena titik singga ini sudah melalui lelang di Kementrian Perhubungan dan dilaksanakan Port to Port atau Pelabuhan ke Pelabuhan.

“Tadinya ada ide bahwa kalau dia tidak sampai Koijabi, bisa di desa-desa sekitar itu, tetapi ternyata setelah kami koordinasi dengan Kementrian, mereka sampaikan tidak boleh karena pelayanannya itu Port to Port atau Pelabuhan ke Pelabuhan, karena kalau tidak begitu maka mereka tidak bayar Subsidinya,” jelasnya lanjut.

Edwin berharap muda-mudahan ada alur masuk yang pas atau kah ada alternatif lain, yaitu menggantikan dengan Kapal yang bobot-Nya lebih ringan sehingga tidak membutuhkan draf alur masuk yang terlalu dalam.

“Intinya katong tetap berupaya, katong sudah sampaikan permasalahan ini ke Kementrian dan muda-mudahan ada alternatif lain supaya semua masyarakat bisa dapat menikmatinya dengan baik.

Untuk menyikapi kondisi ini, Edwin mengaku jika tidak ada halangan mungkin dalam sehari dua akan ada tim yang turun untuk melakukan survey ulang dan alternatif terakhir harus dilakukan pengerukan, walaupun anggarannya cukup besar sebanding dengan membangun satu Dermaga baru.

“Yang terakhir mungkin UPP harus turun untuk keruk, memang dia punya anggaran untuk keruk itu kan sama dengan membangun Dermaga baru, tetapi itu kan nanti dari Kementrian Perhubungan lewat UPP Dobo, karena mereka yang membangun Dermaga itu,” Tutupnya. (Nus.M)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed