Suarapaparisa.com, Transisi ekonomi global terlihat dari acuan Inflasi di berbagai negara atl; Amerika mencapai level ± 9.1% (yoy), dan The Fed bahkan mengumumkan asumsi kenaikan hingga 75% basis point pada akhir juli 2022, Inflasi China ± 2.7% (yoy), pada Juli 2022, Inflasi Jepang mencapai ± 2.5% pada Juli 2022, inflasi Russia mencapai ±15.9%, inflasi Jerman mencapai ± 7.6% (yoy), inflasi di Inggris mencapai ± 9.4% (yoy), dan asumsi rata² negara di dunia yang mencapai di atas ± 7-18%🤦🏼♂️.
Indonesia masih dalam batas bormal yakni 3-4% (yoy). Indonesia mencatat Surplus APBN ±Rp. 106.1 Tr, pada bulan Juli 2022. Realisasi ini, setara dengan 0.57% terhadap PDB. Ada perbedaan mendasar dimana tahun lalu kita mengalami defisit ±Rp.336.7 Tr. Terjadi keseimbangan primer pada Juli 2022 dengan surplus Rp.±316.1 Tr, atau naik dr posisi Juni 2022 sekitar ±Rp. 259.6 Tr. Ini menandakan bahwa rating ekonomi Indonesia masih dalam batas normal. Namun melihat peta geo ekonomi global, maka kita harus bersiap memasuki masa transisi ekonomi. Saat ini laju inflasi hanya ditekan oleh subsidi BBM yang mencapai ±Rp. 502 Tr. Namun ke depan akan sangat berbahaya dan berdampak pada defisit APBN. Jika APBN jebol maka asumsi utang negara akan bertambah jika tak di anulir oleh kebijakan fiskal dan moneter dalam negeri yang kuat.
Kebijakan Pemerintah menahan harga BBM dan Gas dengan dana Subsidi jika untuk jangka pendek dan menengah masih dapat di cover oleh APBN namun untuk jangka panjang akan berakibat buruk bagi tata kelola penyelenggaraan negara sebab keterbatasan pos APBN tak akan mampu menutupi defisit anggaran subsidi.
Adapun beberapa solusi dasar yang mohon untuk dapat dipertimbangkan oleh Pemerintah dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi negara atl :
1. Pemangkasan/pengurangan Anggaran nota belanja lembaga tinggi negara
2. Antisipasi subsidi BBM dan Gas pada pos penerimaan negara dari sektor Migas dan PPN untuk menutupi defisit indikasi jebolnya APBN
3. Genjot UMKM dan prospek usaha ekonomi krearif untuk netralisir pergerakan roda perekonomian masyarakat tetap tumbuh dengan asumsi rotasi putaran uang dan daya beli masyarakat tetap stabil untuk menekan laju inflasi
4. Buka segera jalur transportasi sektor penunjang penerimaan negara dari segi pariwisata
5. Realisasi target investasi lokal dan pemberdayaan investasi lokal
6. Mengurangi tunjangan tambahan penghasilan PNS khususnya jabatan eselon
7. Meningkatkan suku bunga Bank
8. Penerbitan surat berharga negara (SBN), dalam rangka denominasi Rupiah tenor jangka menengah dan panjang untuk memitigasi resiko adanya refinancing dengan proporsi ±75-80an%. Sedangkan
SBN Valas, untuk menghindari Crowding Fund Effect dengan proporsi ±10-15an%. Bisa juga dengan SBN Ritel untuk target tertentu dari sisi konvensional
9. Mengurangi pengeluaran konsumtif
10. Instruksi Pemerintah untuk sementara pegawai mengerjakan tugas kantor secara on-line dari rumah untuk menghemat penggunaan BBM
11. Menggenjot penerimaan pajak, dengan mencapai tax ratio sebesar ±20-25%
12. Buka Pasar Murah, untuk menggenjot daya beli masyarakat dan stabilisasi putaran ekonomi kerakyatan
13. Instruksi penghematan penggunaan BBM, Listrik dan Gas oleh pemerintah pada masyarakat
“Cinta Kasih Mempersatukan Perbedaan untuk Kebangkitan Perekonomian Nusantara” (ASK)
Salam Persatuan,
Saalam Hormat
Andy S Komber









Komentar