Suarapaparisa.com, Harga minyak dunia terus merosot. Organisasi Negara² pengespor minyak (OPEC), mengungkapkan bahwa mereka memproyeksikan surplus minyak pasa tahun ini, sebesar 400rb per barel per hari, dari sebelumnya +300rb per barel per hari atau naik 100 rb barel per hari. Sementara minyak mentah berjangka (WTI), untuk pengiriman di bulan Oktober 2022, jatuh ± 2.3% menjadi US$ ±86.87 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah berjangka Brent, turun ± 2.8% menjadi US$ ± 94.02 per barel di London ICE Futures Exchage. Disisi lain, tertanggal 1 September 2022, Pertamax turbo Cs turun drastis. Disisi lain, Russia telah menawarkan discount 30% harga khusus untuk Indonesia dari nilai jual minyak mentah dunia, artinya 86.87% – 30% = ???.
Alasan Pemerintah, rilis Kemenkeu atas naiknya BBM :
1. Subsidi 502 Tr tsb, dihitung berdasarkan rata² harga (ICP) mencapai US$ 105/barel dengan Kurs 14.700 Dolas AS, dengan volume BBM subsidi Pertalite mencapai ±29 Juta KL, dan Solar ±17.44 Juta KL.
2. Sekalipun harga minyak ICP turun US$ ±90/barel, namun beban subsidi BBM masih menggunakan harga rata² US$ ±97/barel hingga akhir tahun sekalipun harga ICP turun dibawah 90 US$.
3. Disisi lain, subsidi BBM tetap naik dari sebelumnya ±Rp. 502 Tr ke angka ±Rp. 653 Tr, jika harga ICP bertahan di angka ±90 US$/barel hingga Desember mendatang. Artinya kenaikan anggaran subsidi yang diperkirakan Rp640an Tr, dengan kisaran antara ±Rp. 137-151. Tr, tergantung harga ICP
4. Dengan asumsi perhitungan di atas, maka Pemetintah resmi menaikan harga BBM sbb : Pertalite subsidi sebelumnya Rp. 7.650/Lt – Rp.10.000/Lt, Solar subsidi sebelumnya Rp. 5.150/Lt – Rp. 6800/Lt, dan Pertamax sebelumnya Rp. 12.500/Lt – Rp. 14.500/Lt.
Dampaknya :
1. Bersiaplah menghadapi masa transisi ekonomi, Inflasi dan Resesi di depan MATA. Sebab subsidi BLT BBM tak mampu membendung roda perekonomian negara terutama kalangan menengah ke bawah.
2. Indikasi jika harga BBM tak terkontrol lagi, maka atas dampak ekonomi, akan muncul mosi tak percaya pada Pemerintah, dan bisa saja menimbulkan gejolak rakyat, sebab masyarakat pada umumnya, belum bisa menerima kebijakan Pemerintah menaikan harga BBM, disaat harga minyak dunia anjlok.
3. Akan ada gerakan perbandingan dan perhitungan kembali data analisis masyarakat dan Pemerintah, dan pastinya ada konflik kepentingan jika tak diredam sesegeramungkin pasti akan ada gejolak dari berbagai kalangan. Sebab kita negara penghasil minyak. Jangan dibandingkan dengan negara lain seperti Jerman dll, negara bukan penghasil minyak. Jika dibandingkan Malaysia, negara pendapatan perkapita jauh di atas rata², ditambah lagi harga BBM sangat rendah. Sebab itu harus ada peta jalan yang baik untuk mengatasi polemik BBM dalam negeri.
SOLUSI :
1. Untuk menjaga stabilitas pasokan harga kebutuhan pokok, Pemerintah dapat menyediakan dana subsidi khusus untuk logistik sembako ke berbagai daerah. Artinya harga kontainer oleh pengusaha ke berbagai daerah, tak usah dinaikan atau harga selisih jasa angkutan kontainer ditanggung Pemerintah melalui pengawasan khusus agar ada stabilitas harga khususnya kebutuhan pokok sembako dan fasilitas kesehatan dapat terjangkau.
2. Perintah harus fokus pada subsidi harga sembako dari distributor ke konsumen, agar laju inflasi dapat ditekan.
3. Dengan naiknya harga BBM, Presiden harus tegas pada semua kementerian, agar memanfaatkan seluruh potensi yang ada, dengan menunjukan kinerja yang maksimal guna menopang stabilitas perekonomian negara.
4. Kenaikan BBM pasti akan menimbulkan gejolak rakyat, khususnya di wilayah Tengah dan Barat Indonesia. Sebab itu, pada Menteri harus terjun langsung ke lapangan dan memberi atensi pada masyarakat dengan membantu Presiden membagikan langsung BLT, sebagai rasa solidaritas dan keberpihakan Pemerintah pada rakyat.
Sebab solusi utama kenaikan BBM ialah RASA EMPATI Negara hadir bersama rakyat saat susah dan senang, disaat untung dan malang🥲.
5. Angka subsidi sangat besar sekali. Sebab itu, Pemerintah harus berhitung kembali kebutuhan BBM dalam negeri, penyesuaian pada penurunan harga minyak dunia terutama tawaran 30% minyak murah dari Russia, dan menurunkan perlahan harga BBM guna menjaga stabilitas perekonomian dalam negeri.
6. dampak kenaikan BBM, sangat berbahaya sebab jika asumsinya kenaikan BBM pada jatuh tempo pembayaran cicilan ULN dan bunganya maka asumsi pertumbuhan ekonomi tahun depan pastinya di bawah angka 3%.
7. Solusi subsidi BBM melalui BLT tak akan bisa menopang dan menggerakan perekonomian negara, khususnya ekonomi masyarakat bawah sebab subsidi sebesar Rp. 150rb sampai 600rb tak akan cukup untuk masyarakat sebulan.
8. Pengelolaan dana tranfer Daerah, untuk subsidi angkutan umum di berbagai daerah tak menjamin kebutuhan masyarakat akan transportasi, sebaiknya data masyarakat penerima bantuan dan dialihkan saja subsidi tersebut dengan galakan PASAR MURAH RAKYAT setiap bulan.
Andy S Komber
GPPN Papua










Komentar