oleh

BMKG MTB Laksanakan “SLGT” di Aru, Dibuka Oleh Plt Sekda Yop Ubyaan

SUARAPAPARISA.COM, Dobo, Kepulauan Aru,- Melalui program mitigasi dan tanggap bencana, Badan Meteorlogi, Klimatologi dan Geofisika Maluku Tengara Barat (BMKG MTB) melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLGT) di Kabupaten Kepulauan Aru dengan Tema : “Mewujutkan Masyarakat Siaga Tsunami” Selasa (03/10/2023).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 3 Hotel Apex Dobo, Kompleks Cabang 4 atas, Kelurahan Siwali, Kecamatan Pulau-Pulau Aru itu, dibuka secara resmi oleh Plt. Sekertaris Daerah Kabupaten Kepulauan Aru, Yakop Ubyaan, S.Sos mewakili Bupati Aru.

Peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut sebanyak 55 orang yang terdiri dari berbagai elemen Masyarakat, TNI Polri, ASN, Radio Antar Penduduk Indonesai, perwakilan Ormas, perwakilan Sekolah di Kota Dobo, Wartawan dan Pemerintah Desa Durjela Wangel.

Selain itu hadir juga dalam acara pembukaan kegiatan dimaksud, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Bapak Haryono melalui Zoom, Bupati Kepulauan Aru yang di Wakili Sekertaris Daerah Yakop Ubyaan, Koodinator BMKG Provinsi Maluku Djati Cipto Kuncoro, Kepala Stasiun BMKG Maluku Tenggara Barat Edward Henrry Mengko, 2 orang Narasumber dari BMKG Pusat, sejumlah Kepala OPD lingkup Pemda Aru dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Bupati Kepulauan Aru dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Plt. Sekda Yop Ubyaan, atas nama pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru menyampaikan ucapan terima kasih, apresiasi dan penghargaan yang tulus atas kesediaan BMKG Maluku Tenggara Barat melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami Tahun 2023 di Kabupaten Kepulauan Aru.
“Secara khusus kami juga sangat mengapresiasi Pemerintah Desa Wangel dan Desa Durjela yang terpilih dan yang telah mempersiapkan diri untuk menjadi komunitas siaga Tsunami dalam kegiatan verifikasi Nasional Komunitas Siaga Tsunami ( Tsunami Ready Community) tahun 2023,’’ ujarnya.

Menurut Bupati, Kabupaten Kepulauan Aru yang berada di wilayah Provinsi Maluku, memiliki potensi bencana alam Gempabumi dan Tsunami yang sangat tinggi. Hal ini dikarenakan aktivitas tektonik yang intens di kawasan timur Indonesia, sehingga membentuk banyak sumber Gempabumi di sekitar wilayah Maluku.

Disamping itu, lanjutnya, kondisi Kabupaten Kepulauan Aru yang merupakan daerah Kepulauan, semakin meningkatkan potensi kejadian Tsunami, baik yang dipicu oleh Gempabumi Tektonik ataupun sumber non-tektonik dari erupsi Gunung merapi dan longsoran bawah laut.

Dijelaskan bahwa dalam tahun 1629 sampai 1998 tercatat sejarah Tsunami yang pernah terjadi di wilayah Maluku dan Banda sebanyak 45 kali, dua diantaranya adalah Tsunami yang paling mematikan atau deadly Tsunami, itu terjadi pada tahun 1674 yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 2.325 orang, dan pada tahun 1809 mengakibatkan korban jiwa sebanyak 3.864 orang.

“Dan juga baru-baru ini di Provinsi Maluku pada tanggal 10 Januari 2023 diguncang Gempabumi dengan magnitudo (m) 7,9 dengan parameter update m 7,5 pada pukul 00.47.34 WIB dan mengeluarkan peringatan dini potensi Tsunami,’’ tandasnya.

Berkaca dari pengalaman tersebut, Bupati menegaskan perlunya membangun strategi pencegahan dan kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana Gempabumi dan Tsunami yang dapat terjadi kapan saja.

“Mengingat kerentanan, keterpaparan dan potensi ancaman sebagaimana dijelaskan sebelumnya, maka diperlukan suatu momen untuk melatih kesiapsiagaan seluruh komponen Pemerintah, Akademisi, Lembaga Usaha, Media dan masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru dalam menghadapi bencana,’’ harap Bupati.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru sangat mengapresiasi langkah BMKG yang telah menginisiasi dan berupaya semaksimal mungkin untuk merealisasikan kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami, karena sangat diharapkan dengan kegiatan seperti ini akan terbangun kapasitas dan kapabilitas semua pihak terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Terkait pengajuan Desa Wangel dan Desa Durjela sebagai Komunitas Siaga Tsunami (Tsunami Ready Community) Bupati berharap semoga menjadi katalis bagi Desa atua Kelurahan lain di Aru untuk mulai mempersiapkan diri guna menjadikan Kabupaten Kepulauan Aru siap menghadapi Bencana Gempabumi dan Tsunami.

Sementara itu Kepala Stasiun BMKG Maluku Tenggara Barat Edward Henrry Mengko dalam Laporannya diawal acara mengatakan, latar belakang diselenggarakannya kegiatan ini karena begitu tingginya aktivitas tektonik dan sesnik kegempaan yang sangat tinggi di wilayah Provinsi Maluku dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Kabupaten Kepulauan Aru.

Mengko menjelaskan bahwa berdasarkan Peta Scenario bahaya Tsunami yang dibuat oleh BMKG Maluku Tenggara Barat, dimodelkan ancaman yang akan terjadi saat Gempabumi yang berpotensi Tsunami, kemungkinan perjalanan gelombang Tsunami dari sumber Gempabumi dengan scenario terburuk tiba di bagian barat Kota Dobo dalam waktu 40 Menit dan sampai di bagian Utara Kota Dobo sekitar 50 menit.

“Mungkin sampai di Durjela atau Wangel itu sekitar 40 menit, sampai di bagian utara Kota Dobo ini sekitar 50 menitan. Jadi ada waktu 40-50 menit kwaliti time kita bisa memutuskan untuk menyelamatkan diri,” jelasnya.

Menyikapi rawannya Gempabumi di Maluku yang berpotensi Tsunami, maka BMKG merasa yang penting untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini sehingga dapat melatih Masyarakat menjadi Masyarakat siaga Bencana.(NM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed