oleh

Dapur MBG yang Melayani SD 6 Dobo Diduga Gunakan Ikan Melek

SP.COM, DOBO, KEPULAUAN ARU – Dapur II pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi di Dusun Belakang Wamar, Desa Durjela, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru yang melayani SD Negeri 6 Dobo diduga menggunakan ikan melek pada menu yang disajikan ke siswa‑siswi, Jumat (21/08/2026).

Hal ini diketahui langsung oleh orang tua murid saat anak membawa pulang sisa makanan MBG. Anak tidak menghabiskan makanannya karena setelah mencicipi ikan tersebut merasakan sesuatu yang tidak wajar, menimbulkan rasa gatal di mulut sehingga berhenti makan dan membawanya pulang ke rumah.

Menu ikan yang dipakai adalah ikan kembung, yang masyarakat Kepulauan Aru sebut ikan lema. Masalah ini ternyata terjadi dua kali, baik pada penyajian sesi pagi‑siang maupun siang‑sore, dengan jenis ikan dan kondisi yang sama.

Untuk membuktikan, orang tua ikut mencicipinya dan ternyata benar, ikan itu menimbulkan rasa gatal di mulut hingga terasa panas di bibir.

Pihak orang tua meminta Dapur MBG segera mengevaluasi menu yang disajikan agar benar‑benar higienis dan tidak membahayakan kesehatan anak‑anak.

“Kami tentunya mendukung program Makan Bergizi Gratis, karena ini merupakan program pemerintah untuk meningkatkan gizi anak Indonesia, termasuk yang ada di Kabupaten Kepulauan Aru. Namun jika terjadi begini, kami minta pihak dapur harus mengevaluasi menu yang disajikan sehingga tidak berdampak fatal bagi anak‑anak,” ujar salah satu orang tua murid.

Dikonfirmasi awak media, Koordinator SPPG Kecamatan Pulau‑Pulau Aru menjelaskan, pendistribusian sudah sesuai prosedur dan ada penentuan batas kedaluwarsa makanan yang dicantumkan pada ompreng.

“Apakah mereka mengonsumsi makanan diatas batas expired atau tidak, karena kami di SPPG ini ada batas expired makan, dan biasanya kami tulis diatas satu susun atau satu ikat yang berisikan sepuluh ompreng,” katanya.

Kendati demikian, kenyataan di lapangan berbeda, pengantaran makanan sering terlambat sampai ke sekolah. Bahkan minggu lalu ada dua hari berturut‑turut, makanan baru tiba saat siswa sudah pulang, sehingga banyak yang tidak kebagian.

Anak-anak akhirnya disuruh untuk membawa wadah makan dari rumah, sehingga jika makanan datang saat jam pulang sekolah, mereka bisa langsung memindahkannya untuk dibawa pulang dan di makan di rumah.

Langkah ini merupakan inisiatif guru, karena sering kali orang tua murid menunggu lama di halaman sekolah untuk menjemput anak-anak mereka karena masih makan MBG.

Sementara itu, temuan Wartawan pada beberapa sekolah di Kota Dobo, menu sayur jantung pisang jarang disukai sebagian besar Siswa sehingga menuliskan keberatan di kertas.

Menu sayur jantung pisang hampir selalu tersisa utuh di ompreng, sementara nasi serta lauk lain habis dimakan oleh Siswa. Menyikapi hal tersebut, pihak sekolah meminta Dapur MBG untuk menggantikan sayur jantung pisang dengan jenis sayuran lainnya yang tetap bergizi namun lebih disukai anak‑anak.

Beruntung, hingga kini belum ada laporan anak sakit perut atau keracunan, karena anak‑anak sendiri menyadari ikan itu tidak layak dimakan dan berhenti menyantapnya.

Menyikapi hal ini, Badan Gizi Nasional beserta perwakilan SPPG Provinsi Maluku diminta segera mengevaluasi kinerja dapur MBG di Kepulauan Aru, agar hal serupa tidak terulang dan mutu makanan yang disajikan, mulai dari pemilihan bahan, higienitas hingga ketepatan waktu pengantaran benar‑benar tepat waktu dan terjamin sehat saat dikonsumsi anak‑anak penerima manfaat.(NM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed