SP.COM, Saparua 13 Juni 2026.
Perhelatan Piala Dunia yang tengah berlangsung telah menghadirkan euforia yang begitu tinggi di tengah masyarakat. Di berbagai daerah, momentum pesta sepak bola terbesar di dunia itu dimanfaatkan oleh sejumlah instansi pemerintah, organisasi kepemudaan, hingga komunitas untuk menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) bersama masyarakat. Selain menjadi sarana hiburan, kegiatan tersebut juga menjadi wadah mempererat hubungan antara pemimpin dengan rakyat.
Namun, suasana kebersamaan seperti itu dinilai belum dirasakan oleh masyarakat di Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Di tengah tingginya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia, kesempatan untuk menghadirkan kebersamaan melalui kegiatan nobar bersama rakyat dinilai belum dimanfaatkan oleh Kepala Kecamatan Saparua.
Sejumlah warga yang ditemui media mengaku kecewa dan kesal karena hingga saat ini belum ada inisiatif dari pemerintah kecamatan untuk menggelar kegiatan nonton bareng bersama masyarakat. Padahal, menurut mereka, momentum Piala Dunia yang hanya hadir setiap empat tahun sekali dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat dari berbagai negeri yang ada di Pulau Saparua.
Masyarakat menilai kegiatan nobar bukan hanya sekadar menonton pertandingan sepak bola, tetapi juga menjadi hiburan yang dapat menghadirkan kegembiraan bersama di tengah masyarakat. Selain itu, kegiatan tersebut dapat dijadikan sebagai ruang “Jumpa Rakyat” yang mempertemukan pemerintah dengan masyarakat dalam suasana yang lebih santai dan akrab.
Saat ditemui media di Kota Kecamatan Saparua, seorang ibu rumah tangga bernama Sherly mengaku merasa kecewa karena belum adanya kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas dalam momentum euforia Piala Dunia.
“Beta rasa sayang sekali, karena Piala Dunia ini momen yang cuma datang empat tahun sekali. Di daerah lain pemerintah dan masyarakat bisa duduk bersama, nonton bersama, saling berbincang. Katong di Saparua juga berharap ada hal seperti itu supaya masyarakat bisa merasa dekat dengan pemimpinnya dan suasana kekeluargaan semakin terasa. Kalau ada nonton bareng bersama masyarakat, tentu bukan hanya soal sepak bola. Katong juga bisa bertemu langsung dengan kepala kecamatan dan menyampaikan apa yang menjadi harapan masyarakat terkait pembangunan di Pulau Saparua. Suasana seperti ini justru lebih akrab dan masyarakat tidak merasa sungkan untuk menyampaikan aspirasi,” ujar Sherly.
Hal senada disampaikan Bapak Ongen yang juga ditemui media di Kota Kecamatan Saparua. Menurutnya, kegiatan nonton bareng bersama masyarakat dapat menjadi sarana mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakyat.
“Beta rasa kepala kecamatan jangan menilai hal ini sebagai sesuatu yang sepele. Nonton bareng Piala Dunia bukan hanya soal menonton pertandingan, tetapi ini merupakan hiburan bagi masyarakat Saparua dan juga sebuah bentuk kedekatan antara pemerintah dengan rakyat. Momentum seperti ini bisa jadi kesempatan untuk berkumpul bersama, saling mengenal lebih dekat, dan mendengar langsung suara masyarakat. Kegiatan nonton bareng ini juga bisa dijadikan sebagai Jumpa Rakyat, sehingga masyarakat dapat menyampaikan aspirasi secara langsung terkait pembangunan jalan, fasilitas umum, pelayanan pemerintahan, maupun berbagai kebutuhan masyarakat lainnya. Dengan begitu, masyarakat merasa didengar dan pemerintah juga lebih mengetahui kebutuhan rakyatnya,” ungkap Ongen.
Menurut masyarakat, kegiatan sederhana seperti nonton bareng dapat menjadi media yang efektif untuk memperkuat hubungan emosional antara pemerintah dan masyarakat. Mereka berharap Kepala Kecamatan Saparua tidak memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang sepele, melainkan sebagai momentum untuk hadir di tengah masyarakat, menciptakan kegembiraan bersama, serta membuka ruang dialog yang sehat demi kemajuan Pulau Saparua.
Bagi warga, Piala Dunia bukan sekadar pesta sepak bola dunia, tetapi juga momentum untuk mempererat persaudaraan, membangun komunikasi, dan menghadirkan kegembiraan bersama. Masyarakat berharap euforia Piala Dunia dapat dimanfaatkan sebagai ruang dialog yang produktif demi mendorong pembangunan yang lebih merata dan menjawab kebutuhan masyarakat di Pulau Saparua. (*









Komentar