SUARAPAPARISA.COM, Di negeri ini ada penyakit yang lebih berbahaya dari korupsi.
Namanya: “kebodohan”.
Bukan bodoh karena tidak sekolah. Tapi bodoh karena malas berpikir.
Karena 1 orang salah, maka 1 suku disalahkan.
Karena 1 oknum bejat, maka 1 agama dicaci.
Karena 1 pejabat di “Timur” berulah, maka semua orang Timur kena imbas.
Padahal kata “Timur” itu luas.
Timur bisa Flores Timur. Timur bisa Papua. Timur bisa Maluku.
Timur juga bisa Palestina. Timur juga bisa Australia.
Tapi karena malas mencari tahu, semua dipukul rata.
Inilah letak permasalahan Indonesia.
“Kesesatan dalam berpikir”
Ada orang berbuat salah → lalu muncul kalimat: “Dasar orang NTT” AMBON”
Ada oknum korupsi → lalu muncul tuduhan: “Semua pejabat sama saja”
Ada 1 kasus → lalu divonis: “Agamanya memang begitu”
Sejak kapan kesalahan 1 orang jadi tanggung jawab 1 juta orang?
Sejak kapan dosa 1 oknum jadi aib 1 suku, 1 ras, 1 agama?
Ini bukan keadilan. Ini kebiadaban berpikir.
Ini bukan kritik. Ini fitnah massal.
Setya kita Pancasila berdiri untuk memutus rantai ini.
Kami tidak membela yang salah. Tapi kami juga tidak akan diam ketika yang benar ikut diseret jadi kambing hitam.
Jika ada Wakil Ketua DPRD yang menyimpang, hukum dia. Periksa dia. Pecat dia.
Tapi jangan bawa-bawa nama NTT ,Maluku, Sulawesi, Manado , Irian Jangan bawa-bawa nama Timur. Jangan bawa-bawa nama gereja, masjid, atau partai.
Karena keadilan sejati itu: ‘satu orang menanggung perbuatannya sendiri’.
Stop generalisir.
Stop sesat pikir.
Stop menjadikan kebodohan sebagai budaya.
Indonesia hanya akan maju, kalau rakyatnya berhenti berpikir seperti gerombolan, dan mulai berpikir seperti manusia.
*Jakarta, 2026*
*BENTY ALIANDOE*
*Anggota Setya kita ( SKP ) pancasila









Komentar