Suarapaparisa.com – Indonesia`s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 merupakan kondisi yang ingin dicapai dimana tingkat serapan emisi rumah kaca Gas dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan pada tahun 2030 akan seimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi.
Provinsi Maluku sebagai salah satu provinsi dengan tutupan hutan yang sangat baik,tutupan hutan di kita itu 66% dari 3,9 juta hektar hutan di Maluku 66,% itu tutupan nya masih berhutan, sedangkan syaratnya 30% kita malah lebih hampir 20% tandas Pj kadis kehutanan provinsi Haikal Badila.
Memiliki peran penting dalam memenuhi target capaian pengurangan emisi nasional. Dengan tutupan hutan yang cukup baik di Provinsi Maluku berpotensi untuk mendukung penyerapan karbon.
Selain potensi hutan, Provinsi Maluku juga memiliki kawasan gambut dan manggrove yang cukup luas (sekitar 20% dari luas wilayah) yang menjadi tempat simpanan karbon (carbon sink). Simpanan karbon pada lahan gambut dan manggrove ini terus meningkat seiring penambahan ketebalan gambut dan manggrove yang diperkirakan per tahun. Namun jika kondisi alami tersebut terganggu, misalnya terdrainasi, maka akan terjadi percepatan proses pelapukan (dekomposisi) dan kebakaran hutan dan lahan yang memicu terbentuknya GRK terutama gas CO2.
Sebagai salah satu provinsi dari 16 Provinsi yang dimandatkan melaksanakan kegiatan FOLU Net Sink hingga 2030, Pemprov. Maluku menggelar Workshop II Rencana Kerja Sub Nasional Indonesia`s FOLU Net Sink 2030 yang dilaksanakan di Hotel Santika, Senin (05/06/2023). Workshop yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Maluku Ir Sadalie le, M. Si,IPU yang ditandai dengan pemukulan tifa acara ini digelar secara hybrid dan diikuti oleh stakeholder`s terkait
Sekda dalam sambutannya, mengapresiasi komitmen yang diiringi Langkah kerja nyata dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, beserta jajarannya, yang sangat konsen terhadap isu pengendalian perubahan iklim, sehingga pada UNFCC tahun lalu di Glasgow yang telah memperkenalkan kepada dunia tentang target dan ambisi Pemerintah Indonesia melalui SK Menteri LHK tentang rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang di launching pada Bulan Maret Tahun 2022 yang lalu.
Dalam upaya pengendalian iklim, sektor Kehutanan mempunyai porsi terbesar dalam target penurunan emisi gas rumah kaca, sebesar 60%, artinya keberhasilan pengendalian iklim sangat bergantung pada keberhasilan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya.” Jelas Mantan Kadis Kehutanan Provinsi Maluku itu.
Dirinya juga mengatakan FOLU Net Sink 2030, dapat dicapai dengan melakukan Langkah-langkah sebagai berikut, yaitu pengurangan laju deforestasi lahan gambut, pengurangan laju degradasi hutan lahan mineral, pembangunan hutan tanaman, sustainable forest management, rehabilitasi dengan rotasi dan non rotasi, restorasi gambut, perbaikan tata air gambut dan konservasi keanekaragaman hayati.
“Untuk itu saya berharap kepada semua pihak, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan akademisi diharapkan dapat bekerja bersama secara kolektif melalui aksi percepatan dan implementasi langkah-langkah mitigasi domestic, serta peran penting untuk melindungi, melestarikan dan memulihkan alam dan ekosistem dalam memberikan manfaat untuk adaptasi dan mitigasi iklim sambil memastikan perlindungan sosial dan lingkungan.” Terangnya.
Sekda juga Mengatakan telah menginisiasi dengan melakukan penanaman manggrove serentak sebagai pencetus/trigger untuk bisa menggelorakan Indonesia`s FOLU Net Sink 2030 ke kabupaten/kota se-Maluku
Sadali berharap, kiranya moment pertemuan ini akan melahirkan hasil rumusan yang cerdas sebagai kontribusi bagi pembangunan Lingkungan Hidup di Wilayah Timur Indonesia.
“Kita harus mempublikasikan/menggaungkan kegiatan Indonesia`s FOLU Net Sink 2030 ini agar masyarakat kita tahu,” ucap Agus yamin kepala Kelompok teknik restorasi setelah ditemui wartawan
Lebih lanjut Agus menyatakan, dengan mempublikasikan kegiatan tersebut maka Maluku bisa menjadi salah satu contoh nasional yang target wilayahnya terbesar di seluruh provinsi dan menjadikan yang pertama dalam pelaksanaan Indonesia`s FOLU Net Sink 2030 ini.
Turut hadir pada kesempatan itu Sekjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Beserta Rombongan, Pimpinan Indonesia’s Folu Net Sink 2030, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota se-Maluku, Pimpinan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Pattimura, para narasumber, dan Peserta Rapat Regional. (Emly)









Komentar