oleh

Percikan Tinta Jingga di Pelataran Gubuk Legenda

Suarapaparisa.com, “Qui totum vult, totum Perdit” (…)

Misteri padang merah di pelataran gubuk legenda, gonjangan dinasti silih berganti. Loyalitas tokoh serakah menyiksa hati, janji setia terbalut selumbar tinta jingga.

Patah tulang ngilu sendi, percikan darah mengucur berserakan. Di pelataran gerbang legenda, tamu berlari hilang jumlannya.

Musim badai melanda pertiwi, gelitik hati suara mencekam. Lolongan serigala di malam senyap, menuntut darah merah merona.

Takdir pemimpin dibantai nafsu, preman berdasi kenyang dan muntah, masa jaya bertepuk dada, masa suram serpihan tulang tercerai-berai.

Kisah itu menjadi suram, sepi dan hampa hanya ratapan. Warna sukma gegap-gempita, metropolitan bagai museum kota tua nan lusuh.

Bulan dan Bintang tinggalkan malam, gelap serasa alam semesta. Jiwa meronta meminta cahaya, bertanya mentari lupa masanya.

Anak kecil meniup seruling, lagu impian kisah legenda. Siapa melawan ditelan zaman, nama hilang raga binasa.Vivere Militare Est,

Andy S Komber πŸ™πŸΏπŸ‡²πŸ‡¨

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed