Ambon, SP. Com. Terkait dengan masalah Internal Partai Golongan Karya (Golkar) Maluku yang berimbas kepada penutupan Kantor DPD Partai Golkar Maluku di Karang panjang Ambon. Selasa siang tepatnya pada tanggal 02 Juni 2020 dan diduga ada pengrusakan pada jendela disaat kejadian tersebut berlangsung, hal ini membuat dilaporkannya salah satu kader Golkar Ridwan Rahman Marasabessy ke Polisi.
Subhan Pattimahu selaku Ketua PD Angkatan Muda Partai Golkar dan merupakan salah satu kader terbaik milik Partai angkat bicara terkait dengan persoalan yang terjadi di internal Partai, tepatnya pada Kamis (04/06/2020) dalam rilis yang diterima oleh tim SP. Com.
“Terkait apa yang terjadi di Kantor DPD Partai Golkar beberapa hari yang lalu, pada saat Pak Ridwan Marasabessy jika dilihat secara kasat mata dimana beliau melakukan pengrusakan terhadap aset partai itu sebenarnya adalah ungkapan kekecewaan atau mosi tidak percaya dan kegelisahan sebagai Kader Partai Golkar terhadap kebijakan dan cara memimpin Pak Ramli Umasugi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Maluku,” tutur Subhan.
Dijelaskannya hal tersebut terkait dengan pengusulan SK Kepengurusan Partai berlambang pohon beringin kepada DPP Partai Golkar yang tidak sesuai dengan hasil kesepakatan antara Pihak Umasugi dan Hamzah.
“Dimana pengusulan SK kepengurusan Golkar Maluku ke Dewan Pimpinan Partai (DPP) tidak sesuai mekanisme berdasarkan AD/ART dan Juklak 02 DPP Partai Golkar tentang musyawarah-musyawarah dan rapat-rapat khususnya pada Bab 4 pasal Nomor 39 dan 40 yang menjelaskan tentang fungsi dan wewenang dari pada formatur maka disitu jika dilihat ada salah satu formatur dari unsur Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar pada Musyawarah Daerah (Musda) ke 10 tanggal 07 Maret 2020 di Hotel Natsepa Beliau adalah Pak Ir. Hamzah Sangadji (Ketua Pemenangan Pemilu Maluku dan Maluku Utara DPP Partai Golkar) dalam penyusunan komposisi ini terjadi kesepakatan antara Pak Hamzah dan juga Pak Umasugi,”Jelas Ketua PD Angkatan Muda Partai Golkar.
Ditambahkannya, pengusulan yang dilakukan oleh Umasugi pada saat itu tidak melibatkan Sangadji sebagai Tim Formatur dan fatalnya hasil kerja formatur yang dilakukan pada saat itu dimana Sangadji terlibat sebagai Tim formatur tidak dibubuhi oleh tanda tangan beliau sebagai tim kerja.
“Tetapi dalam pengusulan ke DPP tidak melibatkan beliau (Sangadji) dan perlu diketahui pada saat itu Beliau sendiri belum menandatangani berita acara pengusulan hasil kerja Formatur ke DPP dan ternyata dari kesepakatan yang telah disepakati terhadap komposisi kepengurusan Umasugi secara sepihak telah melakukan perubahan komposisi Golkar Maluku secara sepihak dan secara luas,” pungkas Subhan.
Bahwa menyikapi persoalan tersebut secara kekeluargaan saya sudah upaya komunikasi dan meminta klarifikasi serta penjelasan ke pak Ramly dan jawabanya sangat mengagetkan sehingga menimbulkan gelombang Friksi dikeluarga besar Partai Golkar Maluku karena Ketua Formatur (Umasugi) memberikan penjelasan “ini Saudara Yusri Ak. Mahedar (dalam struktur sebagai Ketua Organisasi dan keanggotaan) yang merubah nama serta komposisi jadi bukan beliau (Ramly Umasugi) yang rubah.
Ia mengakui banyak Potensi Partai Golkar yang pada saat itu tidak diakomodir masuk dalam kepengurusan DPD Partai tetapi banyak yang dirasa bukanlah unsur anggota Partai tetapi dimasukan dalam Kepengurusan Partai.
“Banyak nama-nama yang berubah sehingga Potensi potensi Partai Golkar yang tidak diakomodir masuk dalam kepengurusan tersebut, padahal mereka adalah kader-kader terbaik yang secara sepihak dihapus dalam struktur kepengurusan Partai Golkar dan ternyata ada kutu-kutu loncat diluar Partai yang selama ini tidak pernah berkontribusi untuk Partai Golkar tiba-tiba masuk dalam kepengurusan pada jabatan-jabatan strategis baik pengurus harian, Wakil Ketua dan juga Wakil sekertaris,” tegas Ia.
Diungkapkan Subhan, Pak Ridwan yang adalah saham terbesar Partai Golkar yang sudah barang tentu memiliki hak untuk turut andil dalam memasukan kader-kader terbaik milik Partai ternyata berbanding terbalik dengan fakta yang tertuang dalam kepengurusan DPD Partai Golkar yang baru.
“Pak Ridwan selaku kader Golkar yang merasa memiliki saham yang besar di Partai Golkar dan merupakan aset Partai Golkar, dimana memiliki hak di Partai ini (Golkar) untuk dapat memasukan kader-kader terbaik didalam komposisi kepengurusan ternyata berbanding terbalik dengan fakta yang ada,” tegasnya.
Ujarnya banyak Anggota Kader Partai yang telah turut andil dimasa lampau untuk kemenangan Partai pada kursi-kursi Calon anggota legislatif pada saat Pemilu.
“Partai inikan orang tidak digaji tapi dalam setiap tapi konstalasi Politik mereka maju sebagai calon anggota legislatif dengan ribuan suara sehingga menyumbangkan 1 kursi 2 kursi hingga 6 kursi di DPRD Provinsi Maluku inikan kader-kader yang berkorban bagi Partai ini,” ungkapnya dengan kecewa.
Dijelaskan Ia, Uang, waktu, pikiran serta tenaga diberikan oleh kader Partai dan faktanya banyak kader Partai yang tidak masuk dalam komposisi DPD Partai Golkar Provinsi Maluku.
Dan perlu dicatat yah, mereka ini telah berkorban uang, waktu dan berpikir untuk bagaimana Partai ini besar, para caleg juga bekerja dengan uang sendiri menyumbangkan suara dengan ribuan suara sampai mendapatkan 1 kursi di DPRD dan sebagainya, lalu tiba-tiba mereka harus digeser dan tidak masuk dalam komposisi pengurus diganti dengan orang-orang baru dari Partai lain, yah siapa tidak kecewa ! pastilah kecewa,” protesnya.
Lanjutnya, apa yang Ridwan lakukan adalah ekpresi kekecewaan yang tidak perlu ditanggapi secara berlebihan sampai hal ini dibawa ke ranah kepolisian.
“Jadi apa yang Pak Ridwan lakukan dan sampaikan itu sebuah kegelisahan serta kekecewaan dan saya ingatkan ! Ini masalah internal karna Kantor itu adalah aset Partai sehingga masih menjadi masalah internal Partai dan belum saatnya dibawa ke ranah Polisi, toh itu cuma kaca ! Partai ini, ‘Partai besar’ ‘banyak duit Partai ini’ tinggal diganti aja kacanya kan ? selesai ! lalu diajak komunikasi, tidak perlu masalah ini dibawa ke ranah polisi, apa sih yang mau dicari disitu, efek jera?, ” kembali ditegaskan Subhan.
Harapan Subhan selaku Kader Partai Golkar masalah tersebut dapat ditanggapi secara bijak oleh Ramli Umasugi sehingga ada langkah-langkah persuasif yang dapat diambil.
“Saya kira bukan begitu caranya tapi bagaimana kita lakukan komunikasi, dan harusnya Pak Umasugi mengambil langkah-langkah persuasif untuk berdiskusi, karena pemimpin yang baik itu adalah komunikator yang baik. jadi bagi saya selaku fungsionaris Partai Golkar menggangap ini merupakan langkah yang keliru yang diambil oleh Pak Ramli Umasugi melalui Kuasa Hukumnya dan didampingi oleh sekertaris DPD Partai Golkar dan beberapa teman fungsionaris ini untuk melakukan laporan ke polisi kepada saudara Ridwan Rahman Marassabesy adalah Keliru,” paparnya menutup. (**)
Pewarta : Patrick Papilaya









Komentar