oleh

Malteng Siapkan Rencana Aksi Atasi Inflasi

SUARAPAPARISA.COM, MASOHI, – Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, terus melakukan pengendalian inflasi khususnya yang disebabkan tekanan inflasi pangan.

Berdasarkan data hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku tahun pada Kamis, 1 Februari 2024 lalu, Provinsi Maluku mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 4,12 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,84 pada Januari 2024.

Dan Kabupaten Maluku Tengah adalah penyumbang inflasi tertinggi sebesar 6,46 persen dengan IHK sebesar 106,15, disusul inflasi Kota Tual 2,88 persen dengan IHK 106,06 dengan IHK 105,62.

Bawang, Cabai, Beras, Telur dan beberapa komoditas lainnya merupakan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi.

Dalam rangka pengendalian inflasi pangan dan menjaga stabilitas harga, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Arsad Slamat ketika ditemui diruang kerjanya, Rabu (28/02/2024) mengatakan telah menyiapkan rencana aksi.
Pertama, telah disediakannya Pasar Binaiya di Kota Masohi sebagai pusat aktifitas dan pengawasan harga komoditas barang agar tetap dalam kisaran yang wajar dan tidak terlalu terpengaruh oleh praktik monopoli atau spekulasi pasar.

“Secara rutin kita memantau setiap hari Senin dan Selasa. Kita menggelar operasi pasar untuk menekan harga subsidi dari komoditi untuk diberikan kepada konsumen sehingga harga dapat terjangkau,” kata Arsad lagi.

Kedua, lanjut Arsad, melakukan panen lokal sekitar 60 ton bawang merah dari produksi di Tanjung Sial dan Telaga Kodok. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal akan bawang merah agar mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal serta mengurangi biaya transportasi dan distribusi. Selain itu, hal ini juga mendukung perekonomian lokal dengan meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi tingkat pengangguran di daerah tersebut.

“Untuk panen lokal bawang merah ini akan dilakukan di lokasi produksi di Tanjung Sial dan Telaga Kodok sekitar 60 ton. Jumlah ini, saya kira sudah bisa mengatasi ketersediaan stok bawang merah saat bulan suci Ramadhan nanti,” pungkasnya.

Ketiga, Arsad berujar, adalah produksi cabai. Produksi komoditi ini memiliki luas lahan produksi sebesar 110 hektar tersebar di kabupaten Maluku Tengah dengan banyaknya produksi 1,5 ton per satu hektar lahan. Dengan luas lahan yang besar dan produktivitas yang tinggi, Kabupaten Maluku Tengah memiliki potensi untuk menjadi penyuplai cabai yang signifikan bagi daerah sekitarnya. Hal ini tidak hanya dapat meningkatkan pendapatan petani setempat, tetapi juga memenuhi kebutuhan pasar akan cabai secara lokal.

“Kita juga punya produksi Cabai adalah yang terbesar di Maluku Tengah dengan total luas lahan produksi sebesar 110 hektar tersebar di kabupaten Maluku tengah dengan banyaknya produksi 1,5 ton per satu hektar lahan,” ujarnya.

Dengan produksi cabai yang besar, Arsad berharap pemerintah daerah dapat memenuhi kebutuhan lokal tanpa harus mendatangkan pasokan dari luar. Hal ini tidak hanya menjaga stabilitas harga cabai di pasar lokal tetapi juga mendukung petani lokal dan perekonomian daerah secara keseluruhan. Dengan demikian, pasokan cabai dari Maluku Tengah dapat mencukupi hingga bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri, tanpa perlu ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

“Berharap, pemerintah daerah tidak perlu lagi mendatangkan stok cabai dari luar, karena jika mendatangkan pasokan dari luar maka harga cabai di pasaran akan jatuh terlalu jauh, karena stok yang tersedia bisa sampai bulan suci ramadhan sampai Idul Fitri nanti, harapnya.(E.M)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed