Ambon, SP. Com. Tidak pernah ada dokter yang datang melakukan pemeriksaan untuk pengecekan secara langsung bahkan sudah 30 hari saya di karantina tanpa melihat Matahari karena kondisi pintu di rantai, “salah satu dari ciutan Andi pada Akun Facebook miliknya (Rabu/27/05/2020).
Cuitan salah satu Akun Facebook milik Andi Zakii Tuahena yang mengeluhkan soal penanganan warga karantina di Maluku Tengah. Dimana ia mengkritik habis-habisan soal protokoler Covid-19 di Malteng yang dinilai tidak wajar.
Dalam realeasnya Andi Zaki Tuahena mengungkapkan kepada Tim. SP. Com Kamis (28/05/2020) bahwa, “Ini didasari beberapa hal yang pertama, tingkat pelayanan tim Medis yang ada disini, mulai dari awal Beta (Andi) di isolasi tanggal 28 April 2020 setelah beta distatuskan positif Covid-19 versi Rapid Diagnotic Tes (RDT) itu, Beta merasa bahwa beta di lakukan secara tidak baik dan tidak layak, Beta ! pasien tapi seolah-olah tidak pernah ada perhatian khusus dari Tim Medis ‘entah itu pengecekan kondisi secara berkala’. Itu yang sampai saat ini beta seng rasakan, Beta hanya di kurung selama 30 hari,”tutur Andi Via VN Whatsap.
Ditambahkannya bahwa, selama karantina Ia hanya dikurung didalam ruangan bahkan pintu luar di kunci, hal ini yang membuatnya tidak dapat keluar untuk mencoba menghirup udara langsung di luar, dan tidak dapat berolahraga untuk sekedar menjaga kesehatan tubuh.
“Intinya beta stres di dalam ruangan ini, dari hari pertama di isolasi sampai 14 hari itu sama sekali katong dapat perlakuan yang menurut beta seng wajar, contohnya seperti air minum yang beta coba untuk minta di tim Medis tapi dong malah bilang seng bisa kaka karena galon itu berpotensi bisa menularkan virus ke yang punya Depot air isi ulang (yang punya usaha Galon) hal-hal itulah yang buat beta kadang sampe emosi sampe marah dalam ruangan,” jelas Andi.
Dijelaskannya, untuk air saja tidak bisa diberikan kepada mereka hanya satu kali dalam ingatanya mereka diberikan galon untuk air minum dan selepas dari pemberian galon tersebut diakuinya. Ia berusaha untuk mendapatkannya sendiri dengan cara meminta dari teman-teman bahkan menghubungi Keluarga untuk dapat di antar pada lokasi karantina.
“Kalau seng ada air katong seng bisa makan sementara katong samua tau bahwa kondisi wabah Covid-19 inikan mengharuskan katong untuk banyak-banyak mengkonsumsi air hangat, terus satu lagi menyangkut Beta pung maitua (sebutan bagi Istri) setelah dia di operasi bekas jahitannya itu memang bagus tapi setelah operasi sampai hari ini perawatannya tidak intens, yang seharusnya untuk menganti perban 2 hari sekali, malah biasa molor 3 sampai 4 hari dan itupun katong harus ingatkan lagi ! Beta harus emosi lagi, marah-marah lagi, Beta marah-marah karena hal ini menyangkut kesehatan Beta punya Maitua, Beta bukan marah-marah demi Beta kesenangan bukan ! beta marah-marah karena memang selama 3-4 hari perban seng dibuka,” tuturnya.

Lanjutnya, “Bagaimana beta maitua bekas sesar mau sembuh, beta sudah beberapa kali mengaduh itu ke Bupati Maluku Tengah dan Bupati selalu menelpon beta pagi dan sore untuk tanya keadaan ! Ya Beta sempat-sempat tanyakan ke Beliau, dengan sapaan tete haji, ini bagaimana dong jarang masuk periksa katong akhirnya Bupati telpon ke Dokter dan cuma 1 kali itu saja Dokter datang cek Beta selam 30 hari disini, itupun cuma cek tekanan darah saja,” ungkapnya.
Disampaikan oleh Andi selama 29 hari di Karantina hingga dinaikan status tersebut pada Akun Facebook miliknya karena Ia merasa stres dan berharap dapat ditangani secara Profesional sesuai Protap Covid-19 kepada Pasien yang di karantina.
“Beta mau seperti penanganan Pasien covid-19 yang lainnya meski di awasi tapi dibiarkan untuk jalan-jalan di halaman, terus melakukan olah raga, merasa ada sedikit kebebasan dalam wilayah karantina, biar Katong pikiran ini seng stres tetapi ini malah sebaliknya Katong di kurung, bahkan untuk air minum katong mesti beli dan suruh sudara-sudara untuk antar, bahkan untuk makanan katong di kasi begitu-begitu saja dengan bungkusan yang beta rasa kurang steril dari kemasan styrofoam (bungkusan makanan yang terbuat dari busa),” kata Andi
Selama 30 hari Andi mengaku hanya diberi makan sayur buncis ada pergantian ke Sup juga tetapi hanya sesekali menu makan yang diberikan kata andi hanya bubur pada pagi hari, siang dan malam di beri makan nasi dan menu sayur buncis.

“Siapa yang mau bertahan dengan situasi kaya bagini kalau dapat buah paling semangka itupun cuma beberapa kali saja dalam hitungan beta itu sedikit sekali sampai pada puncaknya itu terkait hasil swab pertama kali ditanggal 12 Mei 2020, itu tidak di sampaikan oleh Tim Gugus atau Dinas terkait tapi itupun di dengar langsung dari Bupati, Beta desak Bupati dulu untuk kasih tau hasil Beta baru di kasih tau,” ungkai Andi.
Menurut pengakuan Andi untuk hasil Swab kenapa tidak disampaikan, malah harus membuatnya penasaran dan emosi bergejolak serta menduga-duga padahal menurut ia sendiri selaku pasien telah siap menerima seluruh hasil dari Uji PCR yang sudah ditunggu-tunggu.
“Setelah hasil Swab keluar Beta berharap ada perubahan karna mengingat hasilnya (..) dan beta berharap pada saat itu semakin diperhatikan tetapi pada kenyataannya di luar ekpetasi beta, malahan sama saja, beta hanya di telpon saja dan di beri Vitamin C sampai di anjurkan 3×3 pagi dan malam, ternyata ketika beta minum ada efek samping yang di timbulkan terhadap beta kondisi kesehatan sampai Beta asam lambung naik tengah malam akhirnya 5 hari kemudian di tanggal 15/05/2020 beta di swab Ke 2 yang dilakukan di jam 12.00 wit malam yang hasilnya baru keluar tadi (28/05/2020) dan hasil (..).
Himbau Ia agar Pemerintah Maluku Tengah beserta Tim Gugus Harian Covid-19 Maluku Tengah dapat memberikan tempat karantina yang layak baginya karena harapannya untuk sembuh, bukan dikurung dan diisolasi di tempat yang bagi dia tak layak sebagai Lokasi Karantina.
Harapannya buat Pemerintah dan Tim Gugus agar Pasien Covid-19 dapat diberikan pelayanan yang lebih baik dan juga kebebasan bukan berarti beta akan berbaur dengan Masyarakat tapi kebebasan untuk siapapun Pasiennya agar bisa merasa bahwa dia itu berada di Alam di Tanah di Bumi itu harus ada jangan Pasien itu di buat seakan-akan hidup di penjara, “tutup Andi. (**)









Komentar