Oleh : AbuBakar Solisa. Economist Intelligence Unit telah merilis rangking dari 167 negara berdasarkan kualitas demokrasi dan kebebasannya. Hasilnya Indonesia berada diperingkat ke-64 secara global dengan skor 6,48, jauh dibawah Tunisia (6,72) dan Malaysia (7,16).
Angka ini menempatkan Indonesia masuk dalam kategori flawed democracy (demokrasi setengah matang).
Diatas flawed democracy ada full democracy (demokrasi yang matang). Klaster ini lebih banyak diisi oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Latin, seperti misalnya; Norwegia, Swedia, Portugal, Prancis, Denmark, Finlandia, Australia, Jerman, Inggris, Spanyol, Uruguay, Kostarika dan Chili (baca; Jalan Demokrasi dan Kebebasan Dunia Muslim, Indonesia Sebagai Model?).
Salah satu faktor yg membuat Indonesia masih tertahan diposisi flawed democracy adalah terlalu menguatnya politik kebencian dengan tingkat rasisme dalam kondisi yg sangat mengkawatirkan.
Para politisi dengan tingkat pemahaman yang rendah seperti ini akan cenderung mengkampanyekan isu-isu rasial yang bernada kebencian kepada kelompok-kelompok tertentu dengan tujuan membangun sentimen politik identitas berdaya ledak tinggi di masyarakat seperti SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
Selain itu, penyebaran berita hoaks dan black campaign juga menjadi strategi pemenangan dari para politisi yang minim gagasan, serta dangkal perspektif kemanusiaannya sehingga semua cara dihalalkan yang penting bisa keluar sebagai pemenang.
Inilah wajah lain dari politisi berwatak bigot yg dianggap paling berkontribusi banyak terhadap kemunduran demokrasi kita di Indonesia. Semoga di pilkada besok, tidak ada lagi praktek-praktek politik semacam ini, sehingga kualitas demokrasi kita semakin terkonsolidasi, dan Indonesia bisa bergeser naik dari flawed democracy menuju negara full democracy secara global. (**)
#LawanPolitisiBigot
#LawanPolitisiRasis
#DukungPilkadaTanpaRasisme










Komentar