Suarapaparisa.com, Kisah ini berawal dari, si Bibrisnis dan gerbong para Musafir yang berkelanan mencari secercah asa, tuk bertahan HIDUP di perantauan Legendaris. Alasan para musafir ini merantau; untuk merubah nasib dan kehidupan keturunannya kelak.
Sebab di negeri asalnya, ia tak memiliki arti dan makna hidup alias budak beludak. Oleh karena itu, ia putuskan untuk hijrah ke negeri seberang bersama gerbongnya. Sekalipun melewati samudera luas, hutan dan lembah, tak merintangi niat si Bibris dan gerbongnya untuk mengembara di negeri para leluhur legendaris yang subur, kaya, indah dan mempesona.
Ketika tiba, si Bibrisnis dan gerbongnya kehabisan segalanya, akibat perjalanan yang jauh dalam waktu yang lama. Mereka tak punya apa² lagi alias susah dan sangat dekil. Kisah pyn berlanjut… Kemudian si tuan rumah memberi mereka tempat untuk berteduh dan berbagai perlengkapan kebutuhan hidup, dengan rasa tulus atas belas kasihan yang mendalam, hanya demi panggilan jiwa wujud kemanusiaan sebagai dasar budaya luhur negeri misteri. Saat itu, negeri legenda lagi diserang musuh pasukan kuda putih. Negeri legenda hancur berantakan, si Bibrisnis dan gerbongnya pun kocar-kacir mencari tempat aman untuk berlindung dan sesekali membakar semangat rakyat negeri legenda untuk bangkit melawan musuh.
Seiring waktu berjalan si penumpang gelap di negeri damai pun perlahan mulai berubah dan menunjukan sikap tak hormat, sikap angkuh, sikap memerintah dan mulai berpikir untuk menjadi tuan atas negeri orang yang memanusiakan dirinya dari kisah perbudakan di negeri asalnya. Si Bibrisnis dan gerombolannya merasa punya jasa yang besar atas kemenangan rakyat legenda dari musuh². Oleh sebab itu, mereka mulai membentuk wadah khusus dan bekerjasama dengan golongan rakyat legenda yang serakah dan haus kekuasaan dan bersama memainkan peran politik adu domba berkedok tiket ziarah ke negeri khayangan. Rakyat negeri legenda akhirnya terpecah oleh taktik dan kelicikan si Bibris.
Lanjut… Di suatu Senja, rakyat negeri Legenda berkumpul untuk memilih pengganti Raja mereka. Ternyata momen ini telah lama dinanti si Bibrisnis dan gerbongnya. Mereka pun tak tinggal diam, dan mulai menyusun taktik untuk mengambil-alih kekuasaan di negeri Legendaris. Mereka bahkan tak segan² mengatakan diri sebagai TUAN RUMAH, Pemilik Sah Negeri Legenda dan dengan terbuka menyatakan bahwa rakyat di negeri Legenda adalah pelayan dan budak² mereka. SUNGGUH Kacang Lupa Kulit😥😡.
Seiring waktu berjalan, rakyat negeri Legenda mulai sadar bahwa mereka tertipu oleh khayalan dan tipu muslihat si Bibris dan gerbongnya dan kemudian mereka mulai bangkit melawan dengan dalih bahwa DI MANA BUMI DI PIJAK, DI SITU LANGIT DIJUNJUNG. Mereka tak rela negeri Legenda di serahkan dan dikuasai oleh para PENUMPANG GELAP yang serakah dan rakus melihat dan ingin menguasai *Harta Amanah Leluhur mereka*.
Rakyat negeri Legenda sadar bahwa mereka adalah ‘Tuan Atas Negerinya sendiri’. Kita tidak bodoh, Lebih baik LEBUR dari pada menjadi BUDAK para Penumpang GELAP di negerinya sendiri. Lanjut (…………,…………….), dan akhir dari kisah tersebut, Bibris dan gerbongnya terusir dan tak diberi tempat Sedikitpun oleh seluruh rakyat negeri Legenda, dan Kisah pun berakhir.
Makna kisah tersebut :
1. Jadilah Tuan atas Negeri mu Sendiri
2. Perantau punya hak untuk membantu demi hidup dan masa depan nya namun bukan sebagai pemimpin atas tuan rumah
3. Jika negeri mu jatuh ke tangan bangsa lain, maka ketika itu, harga diri mu pun lenyap dari kandungan badan
4. Jangan biarkan ibu pertiwi menangis atas siksaan bangsa asing di negeri mu yang penuh susu dan madu, negeri harta amanah para leluhur.
5. Jangan terpecah belah oleh politik adu domba bangsa asing.
6. INGAT … Kita tidak bodoh, Kita adalah bangsa besar yakni bangsa INDONESIA. Angkatlah tangan, Tegakan kepala mu. Mampu dan tak mampu, suka dan tak suka, mau dan tak mau ini negeri leluhur kita, HARUS PRIBUMI yang memimpin Bangsanya sendiri, dahulu, kini dan sampai selamanya pribumi adalah tuan atas negerinya sendiri.
Salam Kebangsaan Indonesia dari Sabang hingga Merauke, Pulau Miangas hingga Pulau Rote, kita adalah pemilik SAH Nuswantoro.
Oh Bibrisnis yang Malang… Sekian.
Salam hormat,
Suara anak Papua
Andy S Komber










Komentar