Suarapaparisa.com, Statement Menteri Keuangan RI, bahwa Pertamina merugi ± Rp. 171 Triliun, dan PLN merugi ± Rp. 71 Triliun, adalah teguran yang patut dicatat bersama, Mengapa ???? ada dua sisi substansi, mari kita lihat :
*A. Sisi Positif :*
1. PT. Pertamina (Persero) dan PT. PLN (Persero), telah keluar dari zona nyaman dan telah go Internasional dengan berbagai kebijakan dan perubahan yang fantastik.
2. PT. Pertamina dan PT. PLN telah on the track baik dalam kualitas maupun dalam kuantitas internal Perusahaan.
3. Harus dilihat pula hasil perubahan yang ada dalam internal perusahaan BUMN tersebut. Mengapa ?? Sebab dari segi pendapatan mungkin mengalami penurunan namun dari segi investasi kepemilikan saham dan recovery perusahan serta Kepemilikan asset, mengalami kenaikan yang signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari penambahan kapasitas kilang minyak yang sebelumnya hanya ± 1 juta per barel per hari menjadi 1.425 atau terjadi kenaikan produktifitas ± 425 ribu per barel per hari. Pertamina lagi fokus merampungkan lima (5), proyek kilang minyak di beberapa daerah di Indonesia dan ditargetkan rampung pada 2027 mendatang. Sementara untuk PT. PLN, penjualan listrik naik ± 8,42% (year on year), menjadi 65,42 tera watt hour, pada kuartal 1 2022. Kenaikan penjualan listrik menjadi sinyal kuat bahwa perekonomian negara perlahan kembali pulih seiring pilih nya aktifitas masyarakat usai pandemi Covid-19.
4. Bisnis Pertamina PDC bergerak di bidang jasa penunjang layanan industri energi , seputar aktivitas pemboran, diantaranya; Engineering, Procurement and Cosntruction, Horizontal Directional Drilling Services dan lain sebagainya. Potensi bisnis ini, membuka pundi saham dam menjadikan pertamina sebagai perusahan terkemuka yang sustainable dan siap bersaing di pasaran internasional. Sementara PT. PLN, pada awal 2022 lalu mengeluarkan dana investasi ± 87,7 Triliun untuk membangun berbagai proyek kelistrikan demi memenuhi pasokan kebutuhan listrik di seluruh Indonesia, diantaranya; Pembangunan gardu induk dan transmisi dengan total hampir 175 infrastruktur yang tersebar di seluruh Indonesia, sementara pencapaian TKDN infrastruktur transmisi telah mencapai ±80an%. Ini menunjukan bahwa Pertamina dan PLN semakin berkembang pesat.
*B. Sisi Negatif :*
1. Pandemic Covid -19
2. Perubahan kebijakan dunia dari energi fosil pada EBT
3. Investasi terkendala izin usaha dan hak ulayat
4. Sharing dana PMN terbatas
5. Gonta-ganti Direksi atas kepentingan politis berpengaruh pada perubahan kebijakan internal perusahan
6. Pengawasan kurang di lapangan sehingga nilai marketing menjadi rendah dan terjadi penyelewengan kebijakan/aturan, dana maupun tupoksi
7. Tantangan global dan stabilitas politik serta keamanan
8. Nilai tukar rupiah berdampak signifikan bagi nilai capaian pendapatan laba perusahan
7. Pengaruh sistim teknologi modern memacu nilai persaingan dan pertumbuhan perusahan.
8. Pengaruh konflik Russia vs Ukraina sebagai pemicu lonjakan harga minyak dunia
9. Defiisit operasional perusahan (cost of found), dalam situasi favorable
10. Kebanyakan pengangkatan jabatan direksi atas kepentingan politis dan bukan dari person yang berkompeten maka perusahan sulit berkembang dan mengarah pada situasi kolabs
11. Kebijakan politis mempengaruhi kebijakan internal perusahan yang berdampak pada pincangnya roda perusahan dan defisit biaya operasional pada laba perusahan
12. Tambahan harga subsidi energi terus ditambah, sementara harga BBM dan listrik belum dinaikan untuk stabilitas roda perusahan dan pencapaian laba, sehingga berdampak pada defisit modal operasional perusahan.
13. Kementerian BUMN tak berani naikan harga sementara semua negara telah menaikan harga BBM dan listrik, (politik lempar bola dan cuci tangan dimainkan), namun realita perusahan mendekati titik kolabs🤔🤦🏼♂️
*Solusi :*
1. Pengurangan nilai total belanja perusahan yang tak perlu agar laba meningkat dengan kebijakan irit dan pengawasan yang ketat.
2. Pengawasan dan keamanan perlu di perketat untuk menjaga asset perusahan dari kerugian akibat kebakaran kilang, tangki, pom bensin. Juga kerusakan pembangkit, gardu dan lain sebagainya.
3. Pemerintah hendaknya melalui Kementerian BUMN membuat kebijakan terpadu satu pintu untuk memantau pergerakan saham, asset dan pencapaian kinerja harian, bilanan dan tahunan.
4. Ada kebijakan khusus untuk peralihan dari energi fosil ke EBT dengan perubahan sistim dan mekanisme serta tentunya dengan perhitungan yang matang.
5. Agar Pertamina dan PLN maju dan berlaba tinggi maka, harus ada green design khusus dalam tata Perencanaan hingga proses dan evaluasi kinerja pencapaian perusahan.
8. Pemangkasan aturan yang berbelit-belit untuk investasi agar ada keseimbangan output dan input perusahan.
9. Pemerintah hendaknya mempertimbangkan kenaikan Harga pertalite dan listrik untuk menekan kerugian perusahan.
10. Penambahan anggaran PMN untuk menutupi defisit operasional dan kompensasi energi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahan tersebut.
11. Para direksi harus jauh dari kepentingan politis dan golongan tertentu serta paham kerja agar tak jadi Boomerang dalam perusahan
Dengan melihat dan mengamati sikon dari perkembangan kedua perusahan BUMN tersebut, dari Tanah Papua, kami yakin PLN dan Pertamina akan berjaya dan menjadi perusahan Terkemuka di Indonesia dan Asia Pasifik dan internasional.
🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨
Andy S Komber🙏🏼
Suara anak Papua









Komentar