oleh

Melawan Tabu Menstruasi Melalui Pertunjukan Tari Dan Pameran My Period

Ambon, SP. Com. 9 Oktober 2020. Theodora Melsasail peraih hibah seni kelola kategori inovatif tahun 2020, mempresentasikan pertunjukan tari dan pamerannya secara virtual, melalui media instagram dan facebook dengan judul MY PERIOD. Karya ini terselenggara atas dukungan dari Kelola, Asset Management, dan Citi Indonesia. Theodora membagi karyanya dalam beberapa nomor karya yaitu pameran yang berisi foto-foto tentang bentuk-bentuk pengasingan yang terjadi dihari ini bagi perempuan yang mengalami menstruasi, video reaksi masyarakat saat melihat darah mens pada pakaian perempuan di ruang publik, video pembacaan puisi tentang cerita menstruasi oleh 10 orang dari berbagai usia dan profesi, dance poetry dan dance perform. Koreo yang digunakan dalam karya ini adalah bentuk peminjaman dari gaya-gaya perempuan saat mengalami dismenore juga ada teks dalam bahasa Naulu yang akan hadir di bagian akhir pertunjukan ini.

Theodora memilih isu menstruasi untuk dipresentasikan dalam karyanya. Baginya isu ini penting untuk diangkat dan dibicarakan sebab menstruasi hari ini masih menjadi salah satu hal yang paling dianggap tabu mulai dari rumah hingga ruang-ruang publik. Ini pun menjadi caranya untuk mengedukasi masyarakat khususnya perempuan-perempuan di kota Ambon tentang isu ini melalui seni tari.

Pengalaman ketabuan yang dialami Theodora dikorelasikan dengan salah satu tradisi lokal di Provinsi Maluku yaitu tradisi Pinamou atau tradisi pengasingan perempuan saat mengalami menstruasi pertama dari suku Naulu.“Saya tertarik melihat korelasi antara bentuk pengasingan perempuan yang terjadi di suku Naulu dan yang terjadi di hari ini. Apakah masih ada pengasingan yang terjadi bagi perempuan yang mengalami menstruasi di era modern ini?” tutur Theodora.

Untuk melihat korelasi tersebut, ia melakukan observasi dan wawancara kepada 25 orang mulai dari keluarganya hingga orang-orang terdekat lainnya.  Karya ini pun melibatkan orang-orang yang ahli dibidangnya seperti perempuan asli Naulu yang sudah mengalami tradisi Pinamou dan dokter umum. Serta para kolaborator yang terlibat adalah Theo Dance Family, Bengkel Sastra, B’gaya, Ambon Online Desaign. Juga Tim produksikarya :  Theodora Melsasail (Koreografer & Penari), Donatus Kerjapy (Project Manager), Katong-katong sa (Multimedia), Kenza Trona (Penata Musik), Efie Hehanussa (Penata Busana), Johnman Tomasoa (Penata cahaya), (Pembaca Puisi) Ni Luh Putu Ayu Cahyani, Setya wan Samad, Dorkas Batkunde, Endemina Melsasail, Florence, Irene Sohilait, Marthen Reasoa, Tamara Agustin, Huna Matoke, Novlin Laikiok.

Karya ini akan terus dibaharui untuk dijadikan bahan edukasi bagi komunitas perempuan di kota Ambon. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed