SP. COM, Ambon – Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Maluku memberikan apresiasi kepada masyarakat Maluku secara umum dan masyarakat Pulau Saparua secara khusus yang telah memperjuangkan agar tradisi pembakaran Obor Pattimura di Gunung Saniri dan arak-arakan lari obor Pattimura tetap dilaksanakan setiap tanggal 14 Mei 2026 menjelang puncak Hari Perjuangan Kapitan Pattimura pada tanggal 15 Mei 2026.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Bidang Pendidikan DPD KNPI Provinsi Maluku Alwin C. Tetelepta, S.Pd yang menilai tradisi pembakaran obor dan lari obor Pattimura merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan, adat istiadat, serta identitas budaya masyarakat Maluku yang telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur, khususnya masyarakat adat di Pulau Saparua dan Kepulauan Lease. Tradisi tersebut juga dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Thomas Matulessy bersama rekan-rekannya yang telah berjuang melawan bangsa penjajah hingga nama dan perjuangan mereka terus dikenang oleh masyarakat Maluku melalui peringatan Hari Perjuangan Pattimura setiap tanggal 15 Mei.
Menurut Tetelepta yang juga Aktivis GMKI, semangat masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut menunjukkan kepedulian besar terhadap pelestarian budaya dan sejarah perjuangan Kapitan Pattimura yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Maluku.
“KNPI Provinsi Maluku memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Maluku dan khususnya masyarakat Saparua yang tetap memperjuangkan agar pembakaran obor Pattimura di Gunung Saniri dan arak-arakan lari obor Pattimura tetap ada dan dilaksanakan sebagaimana tradisi yang telah diwariskan oleh para pendahulu,” ungkapnya.
Ia juga merespons langkah dan juga tanggapan yang telah diberikan oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir atas suara masyarakat yang terus disampaikan demi mempertahankan tradisi adat dan budaya masyarakat Maluku, khususnya masyarakat Pulau Saparua.
Menurutnya, suara masyarakat tersebut terus dikumandangkan dari berbagai kalangan, mulai dari pembicaraan masyarakat di pasar, pangkalan ojek, hingga melalui media sosial yang ramai menyuarakan pentingnya menjaga tradisi pembakaran obor dan arak-arakan lari obor Pattimura sebagai bagian dari harga diri masyarakat Maluku.
Selain itu, Tetelepta juga menyoroti bahwa persoalan ini awalnya bermula dari adanya pertemuan yang membahas tidak lagi dilaksanakannya proses pembakaran obor dan arak-arakan lari obor Pattimura dengan alasan efisiensi anggaran serta keterbatasan dana pelaksanaan. Menurutnya, alasan tersebut tidak masuk akal dan tidak sebanding dengan nilai sejarah serta adat istiadat yang terkandung dalam tradisi pembakaran dan lari obor Pattimura.
“Alasan efisiensi anggaran untuk menghilangkan tradisi pembakaran obor dan lari obor Pattimura merupakan alasan yang tidak masuk akal. Karena sejak zaman orang tua-tua dahulu, tradisi ini tetap dilaksanakan walaupun dalam berbagai keterbatasan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti peran para raja negeri-negeri adat di Pulau Saparua dan Ketua Latupati Pulau Saparua agar dapat menjalankan fungsi adat secara baik dan berdiri bersama masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.
“Ketua Latupati dan juga para raja-raja harus berdiri di garis terdepan bersama masyarakat untuk menjaga adat istiadat dan tradisi yang telah diwariskan para leluhur. Jangan terlalu mudah mengiyakan keputusan yang dapat menghilangkan tradisi masyarakat adat,” lanjutnya.
Menurut Alwin, persoalan pembakaran obor dan arak-arakan lari obor Pattimura bukan sekadar persoalan kegiatan biasa, tetapi menyangkut marwah adat, sejarah perjuangan, dan harga diri masyarakat Maluku, khususnya masyarakat Pulau Saparua. Karena itu para pemangku adat diminta tetap menjaga dan melestarikan adat istiadat masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa suara masyarakat adat harus menjadi perhatian utama dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tradisi dan budaya masyarakat Pulau Saparua.
“Suara masyarakat lebih tinggi daripada suara pimpinan kecamatan, kabupaten, maupun pimpinan provinsi dalam persoalan adat dan tradisi masyarakat. Karena itu jangan sampai hal seperti ini terulang kembali,” tutupnya.
Selain itu, KNPI Provinsi Maluku juga menyampaikan kerinduan masyarakat agar iring-iringan lari obor Pattimura dapat dikembalikan seperti pada masa dahulu kala, di mana arak-arakan obor Pattimura masuk hingga ke Kota Ambon sebagai simbol persatuan masyarakat Maluku dalam menghormati perjuangan Kapitan Pattimura dan para pejuang Maluku.
Menanggapi berbagai polemik yang berkembang di media sosial terkait persoalan efisiensi anggaran maupun isu keamanan dalam pelaksanaan pembakaran obor Pattimura, Tetelepta meminta agar Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dan Pemerintah Provinsi Maluku ke depan dapat lebih terbuka dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan adat dan tradisi masyarakat.
Ia meminta agar sebelum pelaksanaan pembakaran obor Pattimura setiap tanggal 14 Mei pada tahun-tahun mendatang, pemerintah dapat mengumpulkan seluruh Raja-Raja di Pulau Saparua, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, dan seluruh unsur masyarakat untuk duduk bersama membicarakan pelaksanaan tradisi tersebut sebagai satu kesepakatan bersama agar tidak lagi menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
Menurut Wakil Ketua Bidang Pendidikan, peringatan Hari Perjuangan Pattimura ke depan juga harus dibangun dengan pendekatan pendidikan, sosial, serta pariwisata agar nilai perjuangan Kapitan Pattimura dapat terus diwariskan kepada generasi muda sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat Maluku.
Melalui pendekatan pendidikan, generasi muda dapat lebih memahami sejarah perjuangan Thomas Matulessy dan para pejuang Maluku sehingga nilai perjuangan, keberanian, persatuan, dan cinta tanah air terus tertanam dalam kehidupan anak-anak muda Maluku.
Sementara melalui pendekatan sosial, momentum Hari Pattimura dapat menjadi ruang pemersatu masyarakat adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kebersamaan serta mempererat persaudaraan orang basudara di Maluku.
Sedangkan melalui pendekatan pariwisata, tradisi pembakaran obor dan arak-arakan lari obor Pattimura dapat menjadi daya tarik budaya yang mampu menghadirkan wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara untuk datang melihat langsung kekayaan budaya dan sejarah perjuangan masyarakat Maluku, khususnya di Pulau Saparua dan Kota Ambon.
“Momentum Hari Perjuangan Pattimura jangan hanya dilihat sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi harus menjadi sarana pendidikan sejarah bagi generasi muda, memperkuat nilai sosial kemasyarakatan, serta mendorong sektor pariwisata budaya di Maluku,” tegasnya.
Di akhir penyampaiannya, DPD KNPI Provinsi Maluku di bawah kepemimpinan Faisal S. Hayoto mengucapkan Selamat Memperingati Hari Perjuangan Kapitan Pattimura 15 Mei 2026 kepada seluruh masyarakat Maluku di mana pun berada. (*










Komentar