SUARAPAPARISA.COM, Dobo, Kepulauan Aru,- Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Aru melibatkan Majelis Adat Aru (MAA) Ursia Urlima dan sejumlah Stakeholder terkait melaksanakan misi perdamaian antara Desa Kalar-Kalar dan Desa Kabalukin, Kecamatan Aru Selatan.
Tim yang dipimpin Plt. Sekertaris Daerah Kabupaten Kepulauan Aru Yakop Ubyaan, S.Sos berangkat dari Dobo menggunakan Kapal Cepat Jargari milik Pemda Aru menuju Desa Feruni, Jumat (06/10/2023).
Turut terlibat dalam misi perdamaian tersebut, Ketua Majelis Adat Aru Ursia Urlima Elisa Darakai bersama Tua-Tua Adat, Asisten 2 Setda Aru Fredik. P. Gaite, S.Ap, Ketua Klasis Pulau-Pulau Aru Bapak Henky Musa, S.Th, Ketua Klasis Aru Selatan Deky Oraile, S.Th, Wakil Uskup Pastor Tino, M.Sc, Waka Polres Aru Kompol Yami Reawari, Kepala Satpol PP Robby Ngaiborsian, Camat Aru Selatan Ibu Serlota Syarukin, SE, Plt. Ketua PWI Aru Junus Mangar, S.Pd, Kades Feruni dan puluhan Personil Polres Kepulauan Aru.
Tiba di Desa Feruni, Tua-Tua Adat Majelis Adat Aru, Pemda dan Pimpin Stakeholder terkait melaksanakan pertemuan bersama Tua-Tua Adat dan Masyarakat Desa Feruni di rumah Tuan Tanah Feruni.
Pertemuan duduk diatas Tikar Adat yang dibuka oleh Ketua Majelis Adat Aru Elisa Darakai bertujuan untuk memasang Sasi Adat atau Sir di Desa Feruni, Desa Kalar-Kalar dan Desa Kabalukin sebagai tanda larangan untuk masing-masing desa bisa menahan diri sambil menunggu mediasi perdamaian oleh Pemda dan Majelis Adat Aru Ursia Urlima.
“Kehadiran kami disini belum untuk membicarakan perdamaian atau menyelesaikan masalah yang terjadi, tetap tujuan kami datang hari ini (Jumat) untuk memintah Basudara bisa menahan diri dulu, kami memasang Sir untuk jangan ada yang bergerak dulu sambil kami mediasi perdamaian,” Ujar Darakai.
Namun sayangnya niat baik itu mendapat penolakan dari Tuan Tanah dan Masyarakat Desa Feruni.
“Katong (kita) seng (tidak) bisa terima pemasangan Sasi, Beta seng mau bertanggung jawab, karena harus ada keputusan bersama, Beta seng mau ambil resiko. Orang Kabalukin Harus mengakui bahwa tanah ini adalah Ferin Botam (milik orang Feruni),” ucapnya dengan nada tegas.
“Katong disini ada tenang karena Katong ada sementara ada dalam pekerjaan gereja,” sambungnya.
Selain itu, Plt. Sekda Aru menyampaikan bahwa tujuan kehadiran Pemerintah Daerah adalah untuk mencari solusi perdamaian dan tidak mencampuri persoalan internal yang terjadi antara ketiga desa.
“Pemerintah daerah hanya mau Bapak Ibu damai, soal tapal batas, itu bukan urusan Pemerintah Daerah, itu urusan internal Bapak dong,” jelas Sekda.
Karena tidak mendapatkan solusi, Pemerintah Daerah dan rombongan melakukan perjalanan ke Desa Kalar-Kalar. Di Desa Kalar-Kalar Tua-Tua Adat Majelis Adat Aru turun disambut baik oleh Masyarakat Desa Kalar-Kalar dan melakukan pertemuan duduk diatas Tikar Adat, namun lagi-lagi tidak mendapatkan solusi untuk memasang Sasi Adat atau Sir karena sudah ada penolakan dari Desa Feruni.
Kendati begitu, sebagian besar dari mereka masih menghargai niat baik Pemerintah Daerah dan Tua-Tua Adat untuk bisa menahan diri.
Selanjutnya, dari Desa Kalar-Kalar Pemda dan Rombongan menuju Desa Kabalukin untuk mengantar puluhan Personil BKO Polres Aru dibawah Komando Waka Polres Aru Kompol Yami Reawari untuk melakukan pengamanan disana.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemda melibatkan Personil TNI Polri untuk memasang Pos pengamanan diantara ketiga desa sehingga bisa mengantisipasi segala kemungkinan yang akang terjadi.
“Kalau sudah begini mau bagaimana lagi, solusinya harus pasang Pos disini untuk jaga jangan sampai ada tejadi hal-hal yang tidak diingini bersama,” pintah Sekda.
Informasi yang dihimpun awak media ini, dalam perkelahian kemarin yang telah menelan korban jiwa itu, hanya antara Desa Kalar-Kalar dan Desa Kabalukin, karena Desa Feruni sementara dalam pekerjaan gereja, namun Tua-Tua Adat Majelis Adat Aru tetap harus lebih awal turun ke Desa Feruni sebagai Kaka atau Desa tertua dari Kalar-Kalar yang duduk dalam pemangku kepentingan adat Ferin Botam.
Hingga berita ini dipublikasi, situasi Kamtibmas masih belum benar-benar kondusif, karena belum ada solusi perdamaian.(NM)










Komentar