oleh

Pala Banda Adalah Warisan Budaya Dunia, Seta : Komite Sudah Rancang dan Mengawal Sampai 2024

Ambon, SP. Com. Komite Jalur Rempah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menelusuri Maluku terkhususnya Kabupaten Maluku Tengah Kecamatan Banda dalam rangka mengangkat nilai warisan budaya “Buah Pala” sebagai Jalur Rempah Indonesia dan Dunia.

Ketua Komite Jalur Rempah Kemendikbud RI Dr. Ananta Kusuma Seta yang dikonfirmasi tentang kegiatannya bersama Timnya di Pulau Banda di Café Sibu-sibu jalan said perintah Kota  Ambon. (4/9) mengatakan, Kegiatan tim Jalur Rempah di Pulau Banda adalah langkah pertama yaitu, upaya kita memuliakan banda sebagai hulunya jalur rempah dunia.

“Pertanyaannya adalah kenapa sampai memuliakan banda, rasanya dunia berutang budi kepada banda, karena banda telah dipilih Tuhan, Pulau ini punya keberkahan. hanya banda yang dipilih Tuhan sebagai tempat ditumbuhinya Pala,”lanjutnya.

Jadi sejak ribuan tahun yang lalu, pala yang di banda itu telah dibawa oleh nenek moyang pelaut kita mengelilingi nusantara sampai ke dunia dan itulah sebenarnya banda itu yang merajut nusantara dan akhirnya Indonesia serta dunia, karena komoditi pertama yang diperdagangkan orang itu adalah buah pala, yang menariknya adalah bahwa cara datang pala tentu kita bicara tentang budaya bahari, karena yang membawa pala ini, bukan melalui jalan darat tetapi melalui laut,”ulasnya.

Karena itu, memuliakan banda maka memuliakan budaya bahari, jadi perpaduan antara kemuliaan darat sebagai penghasil pala dan kemuliaan sebagai budaya bahari nenek moyang kita dulu.

Jadi kebudayaan kita, dari Pala tidak hanya sekedar buah komoditi, tetapi Pala, kita pandang sebagai nilai untuk budaya makan dunia. Orang mengunakan pala apapun budaya makan dunia tambahkanlah pala itu,”jelasnya.

Kemudian Langkah kedua, tidak hanya makan dari pala yang punya budaya kesehatan, dimana pala juga digunakan sebagai obat dan ramuan dan suku-suku mengunakan rempah apalagi sekarang masa covid.

“Pala juga bukan sekedar masalah makanan kesehatan. Karena sejarah menunjukan bahwa para ratu-ratu di kerajaan-kerajaan itu, mengunakan bahan-bahan mewangian dan kecantikan juga ritual agama,”ceritanya.

Kalau kita lihat contohnya di Negara Mesir zaman Farouk Firaun 1200 tahun SM mengawetkan tubuh mengunakan rempah, darimana rempah, salah satunya dari Indonesia. Bahkan zaman hidupnya Firaun itu ada sumple dan lada, dan lada itu dari kita (Indonesia).

Itu semuanya, kita angkat kembali, kalau cina punya jalur sutra maka rasanya indonesia sudah seharusnya Indonesia punya jalur rempah,”terangnya.

Dimana didalam jalur rempah itu, pala adalah salah satu komponen utama bahkan jalur rempah lebih lebar daripada jalur sutra atau lebih tua.

“jadi bicara tentang jalur rempah, bicara tentang jalur budaya bukan rempahnya tapi budaya. Bicara tentang jalur rempah tidak memandang banda sebagai sebuah titik, tetapi awal dari sebuah jalur yang titiknya hilang tetapi berubah menjadi jalur,”ungkapnya.

Kalau jalur adalah perpaduan antara titik, didalam jalur rempah tidak ada masyarakat yang ekslusif tetapi perpaduan antara budaya.

Kemudian Yang ketiga yang angkat dari banda, Bukan memandang rempah kapalnya orang eropa tetapi jalur rempah yang kita bangun adalah memandang dari geladak kapal orang Indonesia, kalau kita memandang dari geladak kapal orang eropa, ah itu banda ada Pala, yang mana saya datang, saya ambil hasilnya khan jadi di abad kedelapan penjajahan pembantaian massal.

“Nah Kalau kita beli rempah dari geladak kapal Indonesia, kita berangkat dari ribuan tahun yang lalu, nenek moyang kita membawa dengan semangat kehangatan (persahabatan) dan itulah rempah (pala) yang mempunyai keunikan sebagai alat pemersatu merajut antar pulau, merajut antar bangsa yang melahirkan nusantara dan dunia,”ulasnya.

Intinya Indonesia hadir sebenarnya dari Nusantara dan Nusantara itu ada gara-gara Pala itu. Dunia belum mengenal antar bangsa, perdagangan global belum ada, gara-gara Pala global itu ada, dunia harus berutang budi,”ungkapnya.

Kedepannya, Kita bulan November 2020 akan mendaftarkan Jalur Rempah itu (Pala) sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO dan kita berharap 2024, kita pastikan dan usaha keras, sudah ditetapkan jalur rempah itu adalah milik kita bersama.

“Tentu kita tidak mendaftarkan sendiri tetapi tahun depan kita akan mengajak negara-negara lain yang dilewati jalur rempah itu (srilangka, afrika dll) yang menghasilkan Pala sama dengan Indonesia, kita daftarkan sama-sama ke UNESCO dan mudah-mudahan ini sejarah baru bagi Indonesia sebagai Imam Jalur rempah bagi tata dunia yang lebih damai seperti yang dicontohkan oleh nenek moyang kita, ”pungkasnya.

Harapan, kita harus bersyukur dilahirkan sebagai orang banda, karena banda adalah salah satu tempat yang dipilih oleh Tuhan di muka bumi ini dan hanya banda sebagai tempat dihidupkannya Pala.

Nenek moyang kita (orang-orang pelaut) sejak ribuan tahun yang lalu bahkan catatan sejarah menunjukkan Pala Tertua pernah ada di Pulau Ai 500 tahun yang lalu dan nenek moyang kita menyebarkan Pala itu merajut antar suku, antar pulau, antar bangsa dengan kehangatan dan cita rasa persahabatan di setiap persinggahan dari pelayaran.

Olehnya itu, kita bertekad tahun 2020 khususnya akan mengembalikan tradisi nenek moyang kita itu, kita akan menebarkan kehangatan dan persahabatan pada dunia yang lebih baik sebagai rasa syukur bahwa kita telah diberi anugerah Pala oleh yang Maha Kuasa.

Ditempat yang sama, Kepala Balai Pelestarian Budaya Provinsi Maluku Rusli mengatakan bahwa, Salah satu titik jalur rempah adalah Banda dari 20 titik yang ada di Indonesia di tahun 2020.

“nah karena itu, marilah kita sama-sama mendukung jalur rempah ini yang di banda, yang nantinya kita sudah memulai dari tahun 2020, bagaimana kita mengali budaya-budaya, karena jalur rempah juga jalur budaya juga’,”terangnya.

Maka itu, kami akan lebih fokus untuk bagaimana memperkuat para komunitas budaya, para pelaku adat tetapi juga masyarakat setempat, apa sih yang memperkuat desain jalur rempah.

Sebab kita tau disana ada tradisi atau kebiasaan upacara, atau budaya tak benda Indonesia seperti ’Belang, Cakalele, Kora-kora yang akan kita aktifkan’.

Dan tahun 2020 ini, perencanaan itu sudah dimulai baik dari komite dan balai pelestarian budaya Provinsi Maluku untuk rancangan-rancangan aplikasi kegiatan terkait jalur rempah mulai dari tahun 2020, tahun depan sampai tahun 2024, dan mudah-mudahan bisa ditetapkan jalur rempah sebagai warisan budaya dunia dari pihak UNESCO,”tutupnya. (tim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed