Suarapaparisa.com, Dobo, Kepulauan Aru,- Kepala SMA Negeri 7 Pulau-Pulau Aru Koijabi, Ibu Welhelmina Sahetapy, S.Pd dikabarkan memiliki kinerja yang buruk hingga menuai protes keras dari masyarakat setempat.
Sesuai informasi yang diterima media ini dari beberapa Tokoh Pemuda dan Tokoh Masyarakat Desa Koijabi, selama ini aktifitas pendidikan pada SMA Negeri 7 Pulau-Pulau Aru yang berkedudukan di Koijabi, Ibu Kota Kecamatan Aru Tengah Timur, Kabupaten Kepulauan Aru itu seperti orang yang menderita penyakit kanker stadium akhir.
Kepala sekolah Welhelmina Sahetapy, S.Pd, dikabarkan lebih sibuk mengurus kepentingan bisnis pribadinya, ketimbang mengurus aktifitas pendidikan di SMA Negeri 7 Koijabi sebagaimana tugas pokoknya.
Amos Gainau salah satu Tokoh Masyarakat Desa Koijabi, kepada media ini di Ambon, Selasa (21/03/2023), mengaku sebagai anak negeri di situ meresa prihatin dengan kondisi pendidikan di SMA Negeri 7 Pulau-Pulau Aru Koijabi.
Menurutnya, sang Kepsek dikabarkan lebih sibuk melaut dari pada berada di sekolah dan melaksanakan tugas pokoknya.
“Selama ini sekolah tidak aktif karena kepala sekolah lebih memilih melaut, karena Kepsek punya Kapal Nelayan. Boleh la ada usaha-usaha sampingan, tetapi tugas pokok jangan sampai diabaikan,” ujarnya.
Politisi senior PDIP Kabupaten Kepulauan Aru itu menilai, sangk Kepsek telah melanggar Peraturan Pemerintah Repoblik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil.
Atas dasar itu, Gainau memintah kepada Pemerintah Provinsi Maluku, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi selaku penanggung jawab bagi guru di tingkatan SMA, SMK dan Sederajat agar segerah mengevaluasi kinerja Kepala Sekolah Welhelmina Sahetapy, S.Pd, sehingga generasi penerus bangsa yang sementara menuntut ilmu di SMA Negeri 7 Pulau-Pulau Aru Koijabi, tidak menjadi korban berkepanjangan.
“Jadi tujuan Kabupaten Kepulauan Aru dimekarkan dan selanjutnya Kecamatan Aru Tengah Timur dimekarkan adalah untuk mendorong percepatan pembangunan di Aru, termasuk yang paling penting yaitu Sumber Daya Manusia, tetapi kalau sudah begini mau jadi apa,” terangnya.
Gainau menyarankan kepada sang Kepsek, agar baiknya memilih, mau tetap fokus urus bisnis pribadi lalu mengundurkan diri dari jabatannya, ataukah dengan kesadaran diri kembali menjalankan apa yang menjadi tugas pokoknya sehingga generasi masa depan di ujung timur Indonesai itu tidak menjadi korban.
Perlu diketahui bahwa hasil penulusuran media ini, guru yang bertugas di SMA Negeri 7 Pulau-Pulau Aru, Koijabi, kurang lebih ada sekitar 7 orang, yang satunya dikabarkan baru saja pindah, sehingga yang ada sebanyak 6 orang, namun pendidikan di Sekolah Menegah Atas (SMA) tersebut semakin mengalami kemunduran yang memprihatinkan.
Hingga berita ini tayang, Kepsek SMA Koijabi belum dapat di konfirmasih karena yang bersangkutan dikabarkan sementara anak buanya melaut.(NM)










Komentar